Pages

Ads 468x60px

Featured Posts

Rabu, 23 Maret 2016

BUDIDAYA TANAMAN KAKAO


Kakao secara garis besar dapat dibagi menjadi dua tipe besar, yaitu Criollo (Amerika Tengah dan Amerika Selatan) dan Forastero (Amazona dan Trinitario). Tanaman kakao dapat diperbanyak dengan cara generativ ataupun vegetatif. Kakao lindak umumnya diperbanyak dengan benih dari klon-klon induk yang terpilih. Sedangkan kakao mulia umumnya diperbanyak secara vegetatif. Namun, kakao lindak pun dewasa ini juga sering diperbanyak secara vegetatif untuk meningkatkan mutu dan hasil. Budidaya kakao sangat ditentukan oleh tersedianya benih dan bibit yang baik untuk menjamin tersedianya benih yang bermutu, maka dewasa ini di Indonesia terdapat sekitar 10 produsen benih (F.X. Susanto, 1994).
Tanaman kakao merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional di Indonesia, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, dan sumber pendapatan. Selain itu, kakao juga berperan dalam mendorong pengembangan wilayah dan pengembangan agroindustri. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam mengusahakan tanaman kakao adalah penggunaan bibit unggul dan bermutu. Tanaman kakao merupakan tanaman tahunan, karena itu kesalahan dalam pemakaian bibit akan berakibat buruk dalam pengusahaannya, walaupun diberi perlakuan kultur teknis yang baik tidak akan memberikan hasil yang diinginkan, sehingga modal yang dikeluarkan tidak akan kembali karena adanya kerugian dalam usaha tani. Untuk menghindari masalah tersebut, perlu dilakukan cara pembibitan kakao yang baik.
Pembibitan adalah suatu kegiatan untuk menghasilkan atau memproduksi bibit. Kegiatan yang dilakukan dalam pembibitan terdiri dari perencanaan pembibitan, pembangunan persemaian, penyiapan media bibit, perlakuan pendahuluan terhadap benih sebelum disemaikan, penyemaian benih, penyapihan bibit, pemeliharaan bibit, pengepakan dan pengangkutan bibit serta administrasi pembibitan (Willy, 2010).
Faktor yang mempengaruhi pembibitan tanaman kakao seperti juga tanaman perkebunan yang lain adalah air, cahaya matahari, unsur hara, suhu, dan kelembaban. Pertumbuhan vegetatif bibit terbagi atas pertumbuhan daun, batang dan akar. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pertumbuhan daun dan batang ialah hormon dan nutrisi (faktor dalam), status air dalam jaringan tanaman, suhu udara dan cahaya (faktor luar). Pertumbuhan akar dipengaruhi suhu media tumbuh, ketersediaan oksigen (aerasi), faktor fisik media tumbuh, pH media tumbuh, selain faktor dalam dan status air dalam jaringan tanaman. Pertumbuhan daun dan perluasan batang menentukan luas permukaan daun dan struktur tajuk yang sangat penting sehubungan dengan proses fotosintesis. Sedangkan perluasan akar akan menentukan jumlah dan distribusi akar yang kemudian akan berfungsi kembali sebagai organ penyerap unsur hara mineral.
Kakao merupakan salah satu komoditas ekspor yang dapat memberikan kontribusi untuk peningkatan devisa Indonesia. Indonesia merupakan salah satu negara pemasok utama kakao dunia setelah Pantai Gading (38,3%) dan Ghana (20,2%) dengan persentasi 13,6%. Permintaan dunia terhadap komoditas kakao semakin meningkat dari tahun ke tahun. Namun, kualitas biji kakao yang diekspor oleh Indonesia dikenal sangat rendah. Hal ini disebabkan oleh pengelolaan produk kakao yang masih tradisional (85% biji kakao produksi nasional tidak difermentasi) sehingga kualitas kakao Indonesia menjadi rendah. Kualitas rendah menyebabkan harga biji dan produk kakao Indonesia di pasar internasional dikenai potongan sebesar USD 200/ton atau 10-15 % dari harga pasar. Selain itu, beban pajak ekspor kakao olahan (sebesar 30%) relatif lebih tinggi dibandingkan dengan beban pajak impor produk kakao (5%), kondisi tersebut telah menyebabkan jumlah pabrik olahan kakao Indonesia terus menyusut. Selain itu para pedagang (terutama trader asing) lebih senang mengekspor dalam bentuk biji kakao atau non olahan (Rohman, 2009).
Daerah utama pertanaman kakao adalah hutan hujan tropis di Amerika Tengah, tepatnya pada wilayah 18o Lintang Utara sampai 15o Lintang Selatan. Daerah-daerah dari selatan Meksiko sampai ke Bolivia dan Brazilia adalah tempat-tempat tanaman kakao tumbuh sebagai tanaman liar. Beberapa spesies Theobroma yang diketahui, antara lain Theobroma bicolor, Theobroma sylvestris, Theobroma pentagona, dan Theobroma augustifolia, merupakan spesies yang pada awalnya juga dimanfaatkan sebagai penghasil biji sebagai campuran.
A.  Sistematika
Kakao atau yang lebih dikenal dengan sebutan cokelat merupakan tanaman yang menumbuhkan bunga dari batang atau cabang. Karena itu tanaman ini digolongkan kedalam kelompok tanaman caulifloris. Adapun sistematikanya menurut klasifikasi botanis sebagai berikut :
Divisio   : spermatophyta
Klas       : Dicotyledon
Ordo      : Malvales
Famili     : Sterculiceae
Genus    : Theobroma
Spesies   : Theobroma cacao.
B.  Jenis
Pada tahun 1937-1938 F.J. Pound mengadakan ekspedisi ke Equador, lembah Amazona, dan Kolumbia untuk mendapatkan bahan tanam cokelat. Dari ekspedisi itu terkumpul 320 buah yang berasal dari 80 pohon terpilih yang tahan akan Witches Broom Diseases. Di Equador sebanyak 250 buah asal 25 pohon yang sama ketahanannya juga dikumpulkan dari Iquitos Island (yang kelak cokelat ini dikenal sebagai klon IMC), Rio Nanai (klon Na), Parinary di Rio Nararion (klon Pa), Rio Morona, dan Rio Ucuyali (klon Sca) di Peru. Tahun 1942 ekspedisi itu diulang kembali ke lembah Amazona untuk mendapatkan batang atas okulasi. Hasil ekspedisi Pound inilah yang kelak digunakan untuk mendapatkan bahan tanam klon maupun biji melalui seleksi dan hibridisasi.
E.E. Cheesman – pada tahun 1942 – yang mulai melaksanakan program pemuliaan di Trinidad, yang bahan tanamnya merupakan hasil dari ekspedisi F.J. Pound. Klon – klon Sca dan Pa dikenal tahan akan penyakit busuk buah (black pods), sedangkan klon IMC tahan akan Cocoa swollen disease. Lebih lanjut cokelat dibedakan oleh cheesman atas dua jenis yaitu criollo dan Forastero. Namun sebelum seorang ahli lain telah lebih dlu membedakan cokelat ata tiga jenis, yaitu Criollo, forastero, dan Calabacillo. Tapi, karena Calabacillo ternyata memiliki sifat-sifat yang sama dengan Forastero maka Cheesman memasukkannya kedalam kelompok Forastero. Jenis Forastero meliputi cokelat yang buahnya bertipe Angoleta, Cundeamor, Amelonado, dan Calabacillo.
Perkembangan penelitian terhadap cokelat telah pula membawa perubahan didalam penggolongan cokelat menurut jenisnya. Oleh Cheesman, Criollo, dan Forastero dibedakan lagi atas Central American Criollos dan South Criollos serta Amazone Forastero. Saat ini bahan tanaman cokelat yang banyak digunakan adalah Upper Amazone Hybrids, karena produksinya tinggi dan cepat sekali mengalami fase generatif.
Bahan tanam klon Na, Pa, Sca adalah contoh UAH yang saat ini banyak digunakan sebagai bahan tanam, demikian juga Amelonado dari cokelat jenis Lower Amazone Forastero, serta ICS dan DR dari jenis Trinitario. Penelitian selanjutnya menghasilkan bahan tanam biji hibrida F2 hasil persilangan beberapa klon, maupun klon sebagai bahan tanam, dan tetua anjuran. Di Malaysia dikembangkan bahan tanam hasil persilangan beberapa nomor klon Sca, Na, dan Pa serta Amelonado untuk menghasilkan biji hibrida F1 unggul. Demikian juga klon-klon anjuran Prang Besar Clones (PBC) dengan berbagai nomor hasil seleksi.
Di Jawa Timur dilakukan hal sama dengan menyilangkan klon DR serta Sca. Di PT Perkebunan VI usaha mendapatkan bahan tanam unggul dilaksanakan dengan menyeleksi bahan tanam biji hibrida F1 untuk menghasilkan bahan tanam biji hibrida F2. Di PT perkebunan II, pembangunan Kebun Benih Cokelat yang mengelola sepuluh klon dengan berbagai nomor dari TSH, Sca, serta Pa, dan ICS telah menghasilkan bahan tanam hibrida F1 (identified hybrids).
Saat ini, dari hasil ekspedisi yang dilaksanakan oleh London Cocoa Trade sepanjang tahun 1980 – 1983 teah dikoleksi 250 bahan tanam vegetatif dari daerah pusat pertanaman cokelat. Sebanyak 577 buah dari 578 pohon telah pula disimpan di Brazilia, ia sebagai koleksi berbagai jenis cokelat. (Tumpal H.S. Siregar, 2006)
2.1.2. Morfologi
Cokelat telah dikenal di Indonesia sejak tahun 1560, tetapi baru  menjadi komoditi yang penting sejak tahun 1951. Pemerintah mulai menaruh perhatian dan mendukung industri cokelat pada tahun 1975 setelah PTP VI berhasil menaikkan produksi cokelat per Ha, dengan menggunakan bibit Upper Amazone Interclonal Hybrid, yang merupakan hasil persilangan antarklon dan sabah. (Tumpal H.S. Siregar 2006)
A.  Akar
Akar cokelat adalah akar tunggang (radix primaria). Pertumbuhan akar cokelat bisa sampai 8 meter kearah samping dan 15 meter kearah bawah. Cokelat yang diperbanyak secara vegetatif pada awal pertumbuhannya tidak menumbuhkan akar tunggang, melainkan akar-akar serabut yang banyak jumlahnya. Setelah dewasa tanaman tersebut menumbuhkan dua akar yang menyerupai akar tunggang.
Perkembangan akar sangat dipengaruhi oleh struktur tanaman, air tanah, dan aerasi didalam tanah. Pada tanah yang drainasenya jelek dan permukaan air tanahnya tinggi, akar tunggang tidak dapat tumbuh lebih dari 45 cm. Hal yang sama juga akan terjadi bila air permukaan tanah terlalu dalam. Percobaan di Malaysia memberi petunjuk bahwa air tanah yang baik untuk pertumbuhan akar bibit cokelat adalah 25 – 64 cm. Keterbatasan akar cokelat untuk berkembang pada tanah yang permukaan airnya ekstrem menjadi faktor pembatas penanaman cokelat di daerah pantai. Akar kecambah yang telah berumur 1 – 2 minggu biasanya menumbuhkan akar-akar cabang (radix lateralis). Dari akar cabang ini tumbuh akar-akar rambut (Fibrillia) yang jumlahnya sangat banyak. Pada bagian ujung akar itu terdapat bulu akar yang dilindungi tudung akar (calyptra). Bulu akar inilah yang berfungsi untuk menghisap larutan dan garam-garam tanah. Diameter bulu akar hanya10 mikron dan panjangnya maksimum hanya 1 mm.
Cokelat akan mempunyai perakaran lengkap setelah tanaman berumur 3 tahun, tetapi hal ini masih bergantung pada faktor-faktor tanah dan jenis tanaman serta pemupukannya. Pada akar cokelat terdapat juga jamur mikoriza yang berperan dalam penyerapan hara tertentu, terutama fosfor.
B.  Batang
Cokelat dapat tumbuh sampai ketinggian 8 – 10 meter dari pangkal batangnya pada permukaan tanah. Tanaman cokelat punya kecenderungan tumbuh lebih pendek bila ditanam tanpa pohon pelindung. Diawal pertumbuhannya tanaman cokelat yang diperbanyak melalui biji akan menumbuhkan cabang-cabang primer. Letak cabang-cabang primer itu tumbuh disebut jorquette, yang tingginya dari permukaan tanah 1 – 2 meter. Ketinggian jorquette yang ideal adalah 1,2 – 1,5 meter agar tanaman dapat menghasilkan tajuk yang baik dan seimbang.
Pada tanaman cokelat yang diperbanyak secara vegetatif tidak didapati jorquette. Cabang-cabang primer tumbuh dari pangkal batang dekat permukaan tanah sehingga ketinggian tanaman relatif lebih rendah dari tanaman cokelat asal biji. Untuk mebentuk habitat yang baik, dibutuhkan seleksi cabang dan pemangkasan yang teratur.
Dari batang maupun cabang acapkali tumbuh tunas-tunas air (chupon). Bila tunas air ini dibiarkan tumbuh akan membentuk jorket kembali. Tunasa air tersebut juga menyerap banyak energi sehingga bila dibiarkan tumbuh akan mengurangi pembungaan dan pembuahan. Karena itu, tunas air harus ditunas secara berkala.
Ditinjau dari tipe pertumbuhannya, cabang-cabang pada tanaman cokelat tumbuh kearah atas maupun samping. Cabang-cabang yang tumbuh kearah samping disebut cabang-cabang plagiotrop dan cabang-cabang yang tumbuh kearah atas disebut cabang-cabang orthotrop.

C.  Daun
Daun cokelat terdiri atas tangkai daun dan helai daun. Panjang daun berkisar 25-34 cm dan lebarnya 9-12 cm. Daun yang tumbuh pada ujung-ujung tunas biasanya berwarna merah dan disebut daun flush, permukaannya seperti sutera. Setelah dewasa, warna daun akan berubah menjadi hijau dan permukaannya kasar. Pada umumnya daun-daun yang terlindung lebih tua warnanya bila dibandingkan dengan daun yang langsung terkena sinar matahari.
Mulut daun (stomata) terletak pada bagian bawah permukaan daun. Jumlah mulut daun sangat bergantung pada intensitas sinar matahari. Karena cokelat termasuk tanaman lindung, aka pengaturan pertumbuhan tanaman cara penguranagan daun untuk menyerap sinar matahari akan sangat menentukan pembungaan dan pembuahan. Dari hasil penelitian Djati Roenggo diperoleh hasil rata-rata bahwa permukaan bawah daun cokelat mempunyai 70 stomata per mm2.
Kedudukan daun cokelat pada cabang primer maupun sekunder terdiri atas dua tipe, masing-masing 3/8 dan 1/2. Kedudukan daun 3/8 didapati pada cabang ortotrop dan kedudukan daun ½ didapati pada cabang plagiotrop.
D.  Bunga
Jumlah bunga cokelat mencapai 5.000-12.000 bunga per pohon per tahun, tetapi jumlah buah matang yang dihasilkannya hanya berkisar satu persen saja.
Bunga cokelat tergolong bunga sempurna, terdiri atas daun kelopak (calyx) sebanyak 5 helai, dan benang sari (androecium) sejumlah 10 helai. Diameter bunga 1,5 cm. Bunga disangga oleh tangkai bunga yang panjangnya 2-4 cm. Tangkai bunga tersebut tumbuh dari bantalan bunga pada batang atau cabang. Bantalan bunga pada cabang akan menumbuhkan bunga ramiflora sedangkan bantalan bunga pada batang akan menumbuhkan bunga cauliflora, yang diameter serbuk sarinya hanya 2-3 mikron.
Daun kelopak bunga (calyx) berbentuk lanset, panjangnya 6-8 m. Warna daun kelopak putih dan kadang-kadang makin keujung warnanya ungu kemerahan. Daun mahkota (corolla) berbentuk cawan, panjang 8-9 mm. Warna daun mahkota putih kekuningan atau putih kemerahan. Benang sari (androecium) tersusun dalam dua lingkaran. Satu lingkaran terletak dilekungan mahkota. Ukurannya pendek dan tidak keluar dari bunga, berbentuk pita dan berwarna kuning. Lingkaran kedua terdiri atas 5 helaian yang tidak mengandung tepung sari, terletak disebelah dalam. Ukurannya panjang dan tumbuh keluar dari bunga. Daun buah (gynoecium) terdiri atas 5 helai dengan tepi saling berlekatan untuk membentuk bakal buah (ovarium) beruang satu.
Penyerbukan bunga cokelat dibantu oleh serangga. Sebanyak 75% dari bunga yang menyerbuk diketahui dibantu oleh serangga Forcipomya spp sedangkan 25% lagi oleh serangga lain yang didapati pada bunga. Ada 3 ordo serangga penyerbuk pada tanaman cokelat, yaitu Homoptera, Hymenoptera, dan Diptera. Forxipomya spp sendiri diketahui terdiri atas 16 subgen. Umumnya serangga Toxopera aurintii box, Tyora tessmani, Crematogester dpressa,Crematogester clariventis, dan Cecidomyiid, serta Drosophila terdapat pada bunga yang siap diserbuki.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa serangga Forcipomya spp atau serangga lainnya hinggap pada bunga cokelat dan kemudian tanpa sengaja menyerbukannya karena tertarik pada garis merah yang terdapat pada staminodia dan pada kerudung penampung bunga. Penyerbukan biasanya berlangsung pada pagi hari, yaitu pada pukul 7.30-10.30. Lingkungan yang lembab, dingin dan gelap karena tajuk sudah tumbuh rapat merupakan kondisi yang disenangi serangga tersebut. Lingkungan hidup serangga penyerbuk, terutama Forcipomya spp, adalah bahan – bahan organik yang lembab dan gelap seperti daun –daun busuk, sisa-sisa kulit buah, atau batang pisang yang dibiarkan busuk dilapangan. Forcipomya spp betina lebih sering mengunjungi bunga daripada yang jantan, karena yang betina membutuhkan protein untuk pematangan telur
E.   Buah
Buah cokelat berupa buah buni yang daging bijinya sangat lunak. Kulit buah mempunyai 10 alur dan tebalnya 1-2 cm. Pada waktu muda, biji menempel pada bagian dalam kulit buah, tetapi bila buah telah matang maka biji akan terlepas dari kulit buah. Buah yang demikian akan berbunyi jika digoncang.
Jumlah bunga yang menjadi buah sampai matang dan jumlah biji didalam buah serta berat biji merupakan faktor-faktor yang menentukan produksi. Buah muda yang ukurannya kurang dari 10 cm disebut cherelle (buah pentil). Buah muda ini acapkali mengalami pengeringan (cherelle wilt) sebagai gejala yang spesifik dari cokelat. Gejala demikian disebut physiological effect thinning, yakni adanya proses fisiologis yang menyebabkan terhambatnya penyaluran hara untuk menunjang pertumbuhan buah muda. Gejala tersebut bisa juga dikarenakan adanya kompetisi energi antara vegetatif dan generatif atau karena adanya pengurangan hormon yang dibutuhkan untuk pertumbuhan buah muda.
Didalam setiap buah terdapat 30-50 biji, bergantung pada jenis tanaman. Sedangkan berat kering atau satu biji cokelat yang ideal adalah 1 + 0,1 gram. Beberapa jenis tanaman cokelat yang menghasilkan buah yang banyak tetapi bijinya kecil, dan sebaliknya.
Perubahan warna kulit tongkok dapat dijadikan tanda kematangan buah. Terdapat buah yang berwarna hijau tua, hiaju muda, atau merah pada waktu muda, tetapi akan berwarna kuning bila telah matang.
2.2.Syarat Tumbuh
Sejumlah faktor iklim dan tanah menjadi kendala bagi pertumbuhan dan produksi tanaman cokelat. Lingkungan alami tanaman cokelat adalah hutan tropis. Dengan demikian curah hujan, temperatur, dan sinar matahari menjadi bagian dari faktor iklim yang menentukan. Demikian juga faktor fisik dan kimia tanah yang erat kaitannya dengan daya tembus (penetrasi) dan kemampuan akar menyerap hara.
Ditinjau dari wilayah penanamannya, kakao ditanam di daerah‐daerah yang berada pada 100 LU sampai dengan 100 LS. Walaupun demikian penyebaran pertanaman kakao secara umum berada pada daerah‐daerah antara 70 LU sampai dengan 180 LS. Hal ini tampaknya erat kaitannya dengandistribusi curah hujan dan jumlah penyinaran matahari sepanjang tahun.
2.2.1. Curah Hujan
Hal terpenting dari curah hujan yang berhubungan dengan pertanaman kakao adalah distribusinya sepanjang tahun. Hal tersebut berkaitan dengan masa pembentukan tunas muda (flushing) dan produksi. Areal penanaman kakao yang ideal adalah daerah‐daerah bercurah hujan 1.100 ‐ 3.000 mm per tahun.
Disamping kondisi fisik dan kimia tanah, curah hujan yang melebihi 4.500 mm per tahun tampaknya berkaitan dengan serangan penyakit busuk buah (black pods).
Didaerah yang curah hujannya lebih rendah dari 1.200 mm per masih dapat ditanami kakao, tetapi dibutuhkan air irigasi. Hal ini disebabkan air yang hilang karena transpirasi akan lebih besar daripada air yang diterima tanaman dari curah hujan, sehingga tanaman perlu dipasok dengan air irigasi.
2.2.2. Temperatur
Pengaruh temperatur pada kakao erat kaitannya dengan ketersediaan air, sinar matahari, dan kelembaban. Faktor‐faktor tersebut dapat dikelola melalui pemangkasan, penanaman tanaman pelindung, dan irigasi. Temperatur sangat berpengaruh pada pembentukan flush, pembungaan, serta kerusakan daun.
Menurut hasil penelitian, temperatur ideal bagi pertumbuhan kakao adalah 30o‐32oC (maksimum) dan 18o‐21o (minimum).  Cokelat juga dapat tumbuh dengan baik pada temperatur minimum 15oC per bulan dengan temperatur minimum absolut 10oC per bulan.
Temperatur yang lebih rendah dari 10o akan mengakibatkan gugur daun dan mengeringnya bunga, sehingga laju pertumbuhannya berkurang. Temperatur yang tinggi akan memacu pembungaan, tetapi kemudian akan segera gugur. Pembuangan akan lebih baik jika berlangsung pada temperatur 26o – 30o C pada siang hari dibandingkan bila terjadi pada temperatur 23oC. Demikian juga temperatur 26oC pada malam hari masih lebih baik pengaruhnya terhadap pembungaan daripada temperatur 23o – 30o C. Jumlah flush maupun luas daun lebih besar pada suhu rendah, demikian juga waktu hidupnya.
2.2.3. Sinar Matahari
Lingkungan hidup alami tanaman kakao adalah hutan tropis yang di dalam pertumbuhannya mebutuhkan naungan untuk mengurangi pencahayaan penuh. Cahaya matahari yang terlalu banyak menyoroti tanaman kakao akan mengakibatkan lilit batang kecil, daun sempit, dan tanaman relatif pendek.
Trinidad dan Ghana merupakan daerah pertama yang mula-mula dicoba untuk penanaman cokelat tanpa naungan. Dari percobaan tersebut diperoleh hasil bahwa cokelat yang ditanam dibawah sinar matahari langsung ternyata lebih tinggi produksinya. Walaupun demikian pembibitan masih memerlukan naungan, karena benih cokelat akan lebih lambat pertumbuhannya pada pencahayaan sinar matahari penuh.
Pemanfaatan cahaya matahari semaksimal mungkin dimaksudkan untuk mendapatkan intersepsi cahaya dan pencapaian indeks luas daun (ILD) optimum. Hal itu dapat diperoleh dengan penataan naungan atau pohon pelindung serta penataan tajuk melalui pemangkasan.
Cokelat tergolong sebagai tanaman C3 yang mampu berfotosintesis pada suhu daun rendah. Fotosintesis maksimum diperoleh pada saat penerimaan cahaya pada tajuk sebesar 20% dari pencahayaan penuh. Kejenuhan cahaya di dalam fotosintesis setiap daun kakao yang telah membuka sempurna berada pada kisaran 3‐30 persen cahaya matahari penuh atau pada 15 persen cahaya matahari penuh. Hal ini berkaitan pula dengan pembukaan stomata yang menjadi lebih besar bila cahaya yang diterima lebih banyak.
2.2.4. Tanah
Tanaman kakao dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, asal persyaratan fisik dan kimia tanah yang berperan terhadap pertumbuhan dan produksi kakao terpenuhi. Kemasaman tanah (pH), kadar zat organik, unsur hara, kapasitas adsorbsi, dan kejenuhan basa merupakan sifat kimia yang perlu diperhatikan, sedangkan faktor fisiknya adalah kedalaman efektif, tinggi permukaan air tanah, drainase, struktur, dan konsistensi tanah. Selain itu kemiringan lahan juga merupakan sifat fisik yang mempengaruhi pertumbuhan dan pertumbuhan kakao.
A.  Sifat Kimia
Tanaman kakao dapat tumbuh dengan baik pada tanaman yang memiliki pH 6 ‐ 7,5; tidak lebih tinggi dari 8 serta tidak lebih rendah dari 4; paling tidak pada kedalaman 1 meter. Hal ini disebabkan terbatasnya ketersediaan hara pada pH tinggi dan efek racun dari Al, Mn, dan Fe pada pH rendah.
Disamping faktor keasaman, sifat kimia tanah yang juga turut berperan adalah kadar zat organik. Kadar zat organik yang tinggi akan meningkatkan laju pertumbuhan pada masa sebelum panen. Untuk itu zat organik pada lapisan tanah setebal 0 ‐ 15 cm sebaiknya lebih dari 3 persen. Kadar tersebut setara dengan 1,75 persen unsur karbon yang dapat menyediakan hara dan air serta struktur tanah yang gembur.
Usaha meningkatkan kadar organik dapat dilakukan dengan memanfaatkan serasah sisa pemangkasan maupun pembenaman kulit buah kakao. Sebanyak 1.990 kg per ha per tahun daun gliricida yang jatuh memberikan hara nitrogen sebesar 40,8 kg per ha, fosfor 1,6 kg per ha, kalium 25 kg per ha, dan magnesium 9,1 kg per ha. Kulit buah kakao sebagai zat organik sebanyak 900 kg per ha memberikan hara yang setara dengan 29 kg urea, 9 kg RP, 56,6 kg MoP, dan 8 kg kieserit. Sebaiknya tanah‐tanah yang hendak ditanami kakao paling tidak juga mengandung kalsium lebih besar dari 8 Me per 100 gram contoh tanah dan kalium sebesar 0,24 Me per 100 gram, pada kedalaman 0 ‐ 15 cm.
B.  Sifat Fisik
Tekstur tanah yang baik untuk tanaman kakao adalah lempung liat berpasir dengan komposisi 30 ‐ 40 % fraksi liat, 50% pasir, dan 10 ‐ 20 persen debu. Susunan demikian akan mempengaruhi ketersediaan air dan hara serta aerasi tanah. Struktur tanah yang remah dengan agregat yang mantap menciptakan gerakan air dan udara di dalam tanah sehingga menguntungkan bagi akar. Tanah tipe latosol dengan fraksi liat yang tinggi ternyata sangat kurang menguntungkan tanaman kakao, sedangkan tanah regosol dengan tekstur lempung berliat walaupun mengandung kerikil masih baik bagi tanaman kakao.
Tanaman kakao menginginkan solum tanah menimal 90 cm. Walaupun ketebalan solum tidak selalu mendukung pertumbuhan, tetapi solum tanah setebal itu dapat dijadikan pedoman umum untuk mendukung pertumbuhan kakao.
Kedalaman efektif terutama ditentukan oleh sifat tanah, apakah mampu menciptakan kondisi yang menjadikan akar bebas untuk berkembang. Karena itu, kedalaman efektif berkaitan dengan air tanah yang mempengaruhi aerasi dalam rangka pertumbuhan dan serapan hara. Untuk itu kedalaman air tanah disyaratkan minimal 3 meter.
C.  Kriteria Tanah
Goenadi dan Hardjono (1985) menetapkan kriteria tanah berdasarkan sifat fisik dan kimianya sehingga dikenal tanah-tanah yang sesuai, cukup sesuai, agak sesuai, kurang sesuai, dan tidak sesuai bagi cokelat. Dengan menetapkan sebaran tingkat pembatas sifat fisik dan kimia tanah, penetapan kriteria tanah tersebut dapat dijadikan pedoman umum bagi rencana penanaman suatu areal apakah sesuai atau tidak bagi pertanaman cokelat.
Di Ghana areal penanaman tanaman kakao yang baik tanahnya mengandung fosfor antara 257 ‐ 550 ppm berbagai kedalaman (0 ‐ 127,5 cm), dengan persentase liat dari 10,8 ‐ 43,3 persen; kedalaman efektif 150 cm; tekstur (rata‐rata 0‐50 cm di atas) SC, CL, SiCL; kedalaman Gley dari permukaan tanah 150 cm; pH‐H2O (1:2,5) = 6 s/d 7; zat organik 4 persen; K.T.K rata‐rata 0‐50 cm di atas 24 Me/100 gram; kejenuhan basa rata‐rata 0 ‐ 50 cm di atas 50%.
2.3.Perkembangan Tanaman Kakao
Sejarah Cokelat masuk ke Indonesia ternyata cukup panjang. Secara garis besar bisa terbagi menjadi dua periode yaitu periode sebelum kemerdekaan dan periode setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Walaupun bubuk cokelat telah dikenal sebagai pencampur minuman oleh bangsa indian suku Maya di Amerika tengah sejak abad sebelum masehi, namun baru abad ke-15 biji cokelat mulai di perkenalkan di belahan dunia lain. Dengan kegunaannya sebagai upeti atau alat barter bernilai tinggi, biji cokelat sebagai pencampur minuman diperkenalkan kepada bangsa Spanyol.
Usaha pengembangan pertanaman cokelat dirintis oleh bangsa Spanyol ke benua Afrika dan Asia. Di Afrika, cokelat diperkenalkan pada abad ke-15 dengan daerah penanaman terutama di Nigeria, Pantai Gading, dan Kongo. Pada waktu yang bersamaan cokelat juga di perkenalkan di Asia, terutama daerah-daerah yang berdekatan dengan kawasan pasifik.
2.3.1. Periode Sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia
A.    Tahun 1560
Tanaman Kakao pertama kali masuk ke Indonesia. Masuk melalui jalur Philipine dan tiba di Sulawesi Utara. Asal dari biji Kakao ini dari Venezuela yang dibawa oleh pelaut-pelaut Spanyol yang sedang berlayar mencari rempah-rempah di Nusantara. Tanaman Kakao yang ditanam di Sulawesi Utara ini berjenis Criollo. Produksi cokelat ini relatif rendah dan peka terhadap serangan hama dan penyakit, tetapi rasanya enak. Jenis ini masih banyak terdapat di Sulawesi sampai sekarang.
B.     Tahun 1806
Agak lama berselang, tanaman Kakao baru diperkenalkan ke Jawa. Terutama di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Seiring dengan perkembangan tanaman kopi di Jawa, tanaman Kakao ditanam dengan naungan pohon kopi. Jenis yang ditanam di Jawa ini juga merupakan jenis Criollo.
C.     Tahun 1880
Tanaman Kakao jenis Forastero mulai diperkenalkan di Indonesia. Jenis ini berasal dari Venezuela juga. Berbentuk lebih bundar dan gemuk dibandingkan jenis Criollo. Jenis Forestero mempunyai ketahanan terhadap hama yang lebih baik dibandingkan jenis Criollo. Kekurangan jenis ini adalah rasa dan aromanya kalah jika dibandingkan dengan jenis Criollo.
D.    Tahun 1888
Tanaman Kakao jenis Criollo Java mulai dikembangkan di Sulawesi dan kemudian diperkenalkan di Jawa. Jenis ini merupakan mengembangan dari Criollo biasa yang berasal dari Venezuela. Tahun 1888 tercatat sebagai tahun ke-77 masuknya cokelat ke Indonesia. Adalah Dr. C.J.J. Van Hall orang yang pertama kali mengadakan seleksi terhadap pohon induk di Djati Renggo dan Getas. Kedua nama kebun tersebut digunakan untuk menamakan beberapa klon coklat jenis Criollo yang sampai saat ini masih digunakan, dengan kode DR dan G berbagai nomor.  Dari hasil penelitian saat itu, direkomendasikan bahan tanam klon-klon DR, KWC dan G dengan berbagai nomor.
E.     Tahun 1914
Buku yang menceritakan tentang Kakao Indonesia pertama kali muncul. Ditulis oleh Dr. J.C.C. Hall berkebangsaan Inggris. Buku ini menceritakan tentang tanaman yang ada di Nusantara dan salah satunya adalah Kakao. Dr. C.J.J. Van Hall. MacGillvray, Van Der Knaap adalah peneliti-peneliti yang giat melakukan seleksi guna mendapatkan bahan tanam unggul maupun klon induk pada awal pertanaman cokelat di Indonesia. Baru pada tahun 1914, MacGillvray telah menulis buku mengenai cokelat, kemudian dituliskannya lagi pada tahun 1932 sebagai edisi ke-dua.
F.      Tahun 1938
Budidaya Kakao mulai mengalami peningkatan yang pesat. Pada periode ini ada 29 perkebunan Kakao Indonesia yang tercatat. Perkebunan kakao ini terdistribusi : 13 perkebunan di Jawa Barat, 7 perkebunan di Jawa tengah, dan 9 perkebunan di Jawa Timur. Perkembangannya juga di dorong oleh meluasnya penyakit karat daun kopi oleh Hemeleia vastatrix, sehingga menyebabkan musnahnya areal pertanaman kopi di Jawa. Disamping itu oleh perusahaan perkebunan, pengembangan usaha cokelat juga dilakukan oleh petani pekebun, terutama di Jawa Barat.
2.3.2. Periode Setelah Kemerdekaan Republik Indonesia
A.    Tahun 1973
Mulai diperkenalkan cokelat jenis Bulk melalui seleksi yang dilakukan oleh PT Perkebunan VI dan Balai Penelitian Perkebunan (BPP) Medan. Cokelat jenis Bulk pada tahun berikutnya memperkecil kemungkinan untuk memperluas penanaman cokelat jenis Criollo. Seperti diketahui, cokelat jenis Bulk dikenal sebagai jenis cokelat yang relatif tahan akan hama dan penyakit, produksinya tinggi walaupun rasanya sedang-sedang saja.
Program pemuliaan PT Perkebunan VI dan BPP Medan itu, yang tetuanya terdiri dari biji-biji campuran Na, Pa, Sca, ICS, GG, DR, Poerboyo dan Getas, menghasilkan biji yang dikenal dengan nama varietas sintetik 1, 2, dan 3. Tetua tersebut berupa biji illegitim hibrida F1 dari Malaysia, yang ditanam sebanyak 150.000 pohon.
B.     Tahun 1976
BPP Jember juga melakukan program pemuliaannya dalam rangka untuk mendapatkan bahan tanam hibrida. Pemuliaan ini bertujuan untuk menghasilkan bahan tanam biji hibrida dengan efek heterosis. Sejumlah persilangan dari klon-klon ICS, Sca, dan DR telah diuji untuk maksud itu. Secara bersamaan usaha untuk mendapatkan bahan tanam klon yang dapat di jadikan sebagai induk maupun bahan tanam praktek juga dilaksanakan di kebun Kaliwining Jember, dan Malangsari.
Di Sumatra Utara, penelitian yang sama terus dilaksanakan dalam rangka pengembangan pertanaman cokelat. Beberapa PT Perkebunan mulai melakukan penanaman cokelat Bulk, seperti PT Perkebunan IV dan II. PT Perkebunan II bahkan melakukan perluasan penanaman cokelat di Irian Jaya dan Riau serta membangun kebun benih cokelat di Maryke, Medan. Pembangunan kebun benih cokelat tersebut dilaksanakan bersama P4TM (Pusat Penelitian Dan Pengembangan Perkebunan Tanjung Morawa) Medan yang saat ini telah menghasilkan bahan tanam biji hibrida, dengan tetua klon-klon Sca, ICS, Pa, TSH, dan IMS. Biji-biji hibrida yang dihasilkan kebun benih cokelat masih dalam tahap pengujian.
C.     Tahun 1980
Bila pada tahun 1970-1977 produksi biji kakao indonesia hanya 2.000-3.000 ton, maka pada tahun 1980 angka itu melonjak menjadi 7.000 ton. Dengan produksi coklat dunia saat ini 1.600.000 ton, maka potensi Indonesia sebagai penghasil cokelat masih baik prospeknya. Bahkan pada periode tersebut, Indonesia sudah mulai menjadi negara penghasil Kakao nomer 3 terbesar di dunia.
D.    Tahun 2011
Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Pemerintah mulai mengurangi ekspor bahan mentah berupa biji Kakao kering. Pemerintah berkeinginan agak biji kakao yang dihasilkan di Indonesia bisa mulai diproduksi di Indonesia dan menjadi produk jadi sebelum akhirnya di ekspor.
2.4.Pemeliharaan
2.4.1. Penyiraman
            Pemberian air pada tanaman kakao perlu dilakukan kalau tanaman memang membutuhkan. Penyiraman tanaman kakao yang tumbuh dengan kondisi tanah yang baik dan berpohon pelindung, tidak perlu banyak memerlukan air. Air yang berlebihan menyebabkan kondisi tanah menjadi sangat lembab. Penyiraman pohon kakao dilakukan pada tanaman muda terutama tanaman yang tak diberi pohon pelindung.Penyiraman juga dapat dilakukan 2 kali sehari (pagi dan sore) sebanyak 2-5 liter/pohon.
2.4.2. Pemupukan
Cokelat dipupuk setelah berumur dua bulan dilapangan. Pada TBM, pemupukan diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan vegetatif dan diharapkan mempertahankan daya tahan tanaman terhadap hama dan penyakit.
Sisa pemangkasan dan kulit buah cokelat yang dibenamkan kedalam tanah juga merupakan sumber hara bagi tanaman cokelat. Kulit buah cokelat pada tanaman TM mengandung Nitrogen, Fosfor, Kalium, Magnesium, dan Kalsium setara dengan urea, RP, MoP, dan kieserit yang dibutuhkan tanaman cokelat.
Pemupukan pada TBM dilakukan dengan cara menaburkan pupuk secara merata dengan jarak 15 – 50 cm (untuk umur  2 – 10 bulan) dan 50 – 75 cm (untuk umur 14 – 20 bulan) dari batang semua. Untuk TM penaburan pupuk dilakukan pada jarak 50 – 75 cm dari batang utama.
2.4.3. Pengendalian Hama Penyakit
Produksi kakao di Indonesia dihasilkan dari perkebunan besar negara, swasta (di Sumatera dan Jawa) dan perkebunan rakyat. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan, lebih dari 80 % produksi kakao kita berasal dari perkebunan rakyat, yang umumnya baik jumlah maupun kualitasnya masih belum optimal, karena masih menggunakan cara-cara yang tradisional. Maka untuk meningkatkan produksi dan kualitas kakao Indonesia, diperlukan pembinaan secara terus menerus khususnya pada para petani, terutama dalam teknologi budidaya kakao yang baik antara lain melalui pengendalian hama dan penyakit tanaman kakao itu sendiri. Agar tanaman kakao dapat berproduksi secara optimal, sebaiknya harus dilakukan pengendalian terhadap berbagai gangguan hama danpeyakit yang menyerang tanaman.
A.    Hama
Tercatat ada 15 hama penggerek batang dan cabang, 11 hama penggerek daun, 8 hama penghisap daun, dan 1 hama pada buah sebagai hama penting pada tanaman cokelat di Indonesia.
1.    Helopeltis sp. ( Hemiptera, Miridae )
Pengendalian secara kimiawi terutama ditujukan kepada sistem pengamatan serangan sehingga penggunaan insektisida akan efektif dan efisien. Early warning system (EWS) merupakan suatu sistem yang dinilai baik. Didalam sistem ini areal cokelat dibagi menjadi subplot, masing-masing subplot seluas 5 ha. Didalam tiap subplot terdapat 4 kelompok pertanaman cokelat yang berjarak sama (42,42 m x 42,42 m). Kelompok cokelat inilah yang ditetapkan sebagai pohon pengamatan. Pengamatan ditujukan kepada ada tidaknya Helopeltis sp. pada buah atau pucuk. Nilai 1 diberikan kepada kelompok pohon pengamatan yang didapati 1 serangga, nilai 2 untuk 2 serangga, dan seterusnya. Namun nilai 5 diberikan kepada kelompok pohon pengamatan yang dihuni oleh serangga hama lebih dari 5 ekor. Penyemprotan insektisida dilakukan pada kelompok pohon pengamatan dan pohon disekitarnya.
Disamping itu, pengendalian secara biologis juga memberi harapan untuk dikembangkan. Semit hitam (Dolichoderus thoracicus) bisa dimanfaatkan sebagai pengendali perkembangbiakan Helopeltis sp. Adanya kutu putih (Pseudoccus sp). pada buah maupun pucuk cokelat mengundang kerumunannya semut hitam pada tanaman cokelat karena kandungan gula sekresi kutu putih. Penanaman kelapa sebagai pelindung tetap yang diharapkan bisa menjadi sarang tetap semut hitam juga sangat baik untuk dikembangkan guna mengendalikan serangan Helopeltis sp. Sisa kulit buah yang mengandung kutu putih yang disangkutkan pada pangkal buah cokelat akan mengundang kehadiran semut hitam. Teknik ini sudah diketahui sejak tahun 40-an, dan bila dilakukan secara berkala akan dapat mengendalikan perkembangbiakan serangga hama, terutama Helopeltis sp.
2.    Conopomorpha cramella (Lepidoptera, Gracillariidae)
Hama ini dikenal juga dengan nama Penggerek Buah Cokelat (PBC), cacao mot, atau pod borer. PBC yang menyerang pada areal pertanaman cokelat dapat dikendalikan dengan cara merumpis. Caranya, seluruh buah dipetik, kemudian dibenamkan ke dalam tanah.
Didalam teknik bercocok tanam usaha menanam tanaman tahan hama dan penyakit, terutama jenis Upper American Hybrids, Forastero, atau cokelat jenis Bulk, dapat dilakukan sejak awal. Cokelat jenis Criollo lebih peka terhadap serangan PBC karena kulitnya lunak dan adanya lekukan-lekukan yang lebih banyak dibandingkan dengan jenis cokelat lainnya.
Usaha lain yang dilakukan adalah dengan membungkus buah. Kantong plastik berukuran panjang 34 cm dan lebar 17 cm serta tebal 0,03 mm disarungkan menutupi buah dengan kedua ujungnya terbuka. Pembungkusan hanya dilakukan terhadap buah yang panjangnya sudah lebih dari 12 cm. Penanaman areal penyangga dengan kopi atau karet, pembenaman kulit buah kedalam tanah setiap selesai pemecahan dilapangan, panen yang berfrekuensi , dan mencegah pemindahan buah dari satu tempat ketempat lain juga merupakan tindak pencegahan penyebaran PBC.
Pengendalian PBC secara kimiawi juga dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida organochlorine atau pyrethroid sintetik, misalnya menggunakan Cyfluthrin 10 – 15 cc per  10 liter ai denganelang waktu penyemprotan 10 – 14 hari. Alat yang digunakan adalah mist blower.
3.      Zeuzera sp. (Lepidoptera, Cossidae)
Pengendalian serangan hama penggerek jenis ini dapat dilakukan dengan memotong cabang terserang sepanjang 30 cm dari lubang tempat masuknya. Cabang dikumpulkan kemudian dibakar, penggunaan insektisida organoklorin atau organofosfat sistemik pada lubang yang digerak dapat membunuh ulat.
4.      Darna trima (Lepidoptera, Limacodidae)
Hama ini juga dikenal dengan nama ulat api. Serangannya mampu mengakibatkan rontoknya daun cokelat. Pada awal serangan, daging daun dimakan sehingga warna daun menjadi kuning. Sambil makan daun, Darna trima mengeluarkan cairan. Serangannya bukan saja terhadap beberapa helai daun, tetapi meliputi seluruh daun cokelat.
Disamping menggunakan insektisida, pengendaliannya dapat dilakukan dengan meningkatkan sanitasi dibawah pohon cokelat.
5.      Hyposidra talaca (Lepidoptera, Geomitridae)
Atau lebih dikenal dengan nama ulat jengkal. Pengendaliannya dengan menyemprotkan insektisida berbahan aktif Dekametrin (misalnya Decis 2,5 EC), sihalotrn (Matador 25 EV), sipermetrin (Cymbush 5 EC), metomil Nudrin 24 WSC/Lannate 20 L), dan fenitron (Karbation 50 EC). Pengendalian khususnya dilakukan pada saat ulat baru menetas didaun lamtoro. Oleh karena itu, pengaturan tinggi lamtoro perlu diperhatian untuk mengendalikan serangan hama ini. Penyemprotan insektisida dianjurkan 2 – 3 kali mengingat adanya berbagai stadia pada waktu yang sama. Perbaikan sanitasi areal pertanaman cokelat, khususnya serasah, juga merupakan tindak pengendalian Hyposidra talaca. Dengan menyapu sersah maka perkembangan pupa dapat dikendalikan.
6.      Apogonia sp. (Scarabaeidae, Melolonthinae)
Pengendalian dapat dilakukan dengan menyemprotkan insektisida sistemik jenis monocrotophos, dicrotophos, dimethoate, dan acephate. Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada malam hari, saat Apogonia sp. aktif. Perlindungan dengan pelepah kelapa sawit yang ditancapkan disekeliling cokelat muda juga terbukti dapat menurunkan  tingkat serangan Apogonia sp. Di samping itu, pengecatan batang cokelat muda setinggi 15 cm dari permukaan tanah dengan acephate atau monocrotophos juga telah terbukti dapat mengendalikan serangan hama ini. Parasit seperti  Tiphia (Hymenoptera, Tiphiidae) yang biaa dimanfaatkan di Malaysia, prosenasiberita F., dan Masicerna sp. dijawa memberi petunjuk bahwa Apogonia sp. dapat dikendalikan secara hayati.
B.       Peyakit
Agar tanaman kakao dapat berproduksi secara optimal, sebaiknya harus dilakukan pengendalian terhadap berbagai gangguan peyakit yang menyerang tanaman, seperti : 1) penyakit busuk buah dan kanker batang (Phytopthora palmivora); 2) penyakit antraknose (Colletotrichum gloeosporiodes); 3) penyakit Vascular Streak Dieback (VSD); 4); penyakit Cocoa Swolen Shoot Virus (CSSV); dan 5) penyakit Monila Pod Rod.
1.    Penyakit busuk buah dan kanker batang (Phytopthora palmivora)
Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan cara mengurangi kelembaban kebun dengan cara memperbaiki drainase, mengurangi naungan, membrantas gulma dan melakukan pemangkasan; Buah-buah yang busuk diambil secara teratur misalnya empat hari sekali dan buah tersebut harus dikubur sedalam 30 cm; kanker batang dapat dikendalikan dengan mengupas kulit yang sakit sampai pada batasan yang sehat, kemudian bagian tersebut diolesi dengan fungsida Cupravit (tembaga oksida), Copper Sandos (tembaga oksiklorida) dengan konsentrasi 5-10% formulasi; serta penyakit buah busuk dapat dikendalikan dengan penyemprotan fungisida Copper Sandos, Cupravit dan Rocide (tembaga oksida, tembaga oksiklorida, tembaga hidroksida), dengan konsentrasi 0,3% formulasi. Penyemprotan menggunakan alat semprot knapsack sprayer dengan volume semprot 500 liter/ha dengan interval dua minggu. Pada musim hujan diperlukan 4-6 kali penyemprotan.
2.    Penyakit Antraknose (Colletotrichum gloeosporiodes)
pengendalian penyakit ini dilakukan dengan cara :
a.    Pemangkasan ranting sakit dan pemetikan buah sakit, kemudian dikubur dalam tanah. Pelaksanaan dapat dilakukan bersamaan saat pemangkasan, pemanenan, maupun pada saat pengambilan buah busuk karena Phytopthora palmivora;
b.    Pemberian pupuk kandang sekitar 25 kg per pohon dan pemupukan secara berimbang;
c.    Pemberian penaung yang cukup yaitu sekitar 25% untuk tanaman dewasa. Bila menggunakan pohon lamtoro yang tahan kutu loncat, maka populasi minimum 250 pohon/ ha;
d.   Melakukan penyemprotan dengan fungisida yang dianjurkan yaitu fungisida sportak (prokloras) dengan konsentrasi 0,3% formulasi atau dengan belerang sirus dengan dosis 15-20 kg/ha. Penyemprotan diarahkan pada flush yang masih berukuran sekitar 5 cm. Bila tanaman sudah tinggi, maka alat semprot perlu menggunakan tangkai panjang. Belerang diaplikasikan pagi hari pada saat masih ada embun. Pada setiap periode flush, dilakukan 2-3 kali penyemprotan dengan interval satu minggu.
3.    Penyakit Vascular Streak Dieback (VSD)
Penyakit ini dikendalikan dengan cara memotong ranting dan cabang tanaman yang terserang sampai bagian yang masih sehat (sekitar 30cm dari batas gejala garis-garis cokelat pada jaringan yang tampak). Selanjutnya ranting atau cabang yang telah dipotong dibakar atau dipendam dalam tanah; serta mengurangi kelembaban kebun antara periode flush pada musim hujan dengan cara pemangkasan tanaman kakao, tanaman penaung dan memperbaiki saluran drainase.
4.    Penyakit Cocoa Swolen Shoot Virus (CSSV)
Untuk mencegah meluasnya penyakit CSSV ke daerah yang belum terinfeksi maka perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
a.       Dilarang membawa buah, biji, tunas muda, dan daun kakao ke daerah/kebun yang belum terinfeksi. Sekali tanaman kakao terinfeksi CSSV, maka butuh waktu 2 tahun sebelum gejala awal muncul.
b.      Dilarang memindahkan bahan tanaman sakit, serangga, sampel tanah dari kebun yang terinfeksi kecuali dibawah pengawasan pakar peneliti.
c.       Gunakan selalu sepatu bot yang mudah dibersihkan dan basuh kedua tangan dengan alkohol setelah memegang bahan tanaman sakit.
d.      Bersihkan semua peralatan sebelum masuk ke kebun.
e.       Minimalkan jenis dan jumlah peralatan yang akan digunakan di kebun untuk menurunkan resiko kontaminasi.
Sedangkan untuk kebun-kebun yang sudah terinfeksi CSSV maka langkah pengendalian yang dapat dilakukan antara lain:
a.       Tanaman kakao sakit diupayakan untuk dibongkar (eradikasi) untuk menghilangkan sumber inokulum. Dalam upaya ini perlu diingat bahwa biaya yang diperlukan tidak sedikit dan seringkali mengakibatkan pertentangan politik dalam negeri.
b.      Serangga vektor dikendalikan dengan memanfaatkan baik agens pengendali hayati (APH)maupun pestisida nabati. Penggunaan insektisida kimia yang bersifat sistemik dianjurkan bila telah terjadi serangan endemik.
c.       Melakukan inokulasi silang (preimunisasi) dengan menggunakan strain virus yang avirulen untuk melindungi tanaman kakao dari virus yang virulen.
d.      Dilakukan upaya cordon sanitaire, yaitu suatu jalur yang bebas dari CSSV untuk mengisolir kebun-kebun yang terinfeksi.
e.       Menggunakan bibit kakao yang berasal dari Somatic Embryogenesis (SE) untuk menurunkan tingkat infeksi CSSV.
5.      Penyakit Witchers Broom Diseases (WBD)
Penyakit ini dikendalikan dengan cara : 1) memotong cabang sepanjang 15 cm dari bagian yang terinfeksi kemudian memusnahkannya dengan cara dibakar; 2) membuang buah muda maupun dewasa yang berbecak/ terserang WBD dan memusnahkannya; 3) menanam bibit yang tahan WBD seperti Sea 6 dan Sea 12 serta hibridanya yang disilangkan dengan ICS 60.
6.    Penyakit Monila Pod Rod
Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan menyemprotkan insektisida yang mengandung tembaga dan sulfur kearah buah yang masih mengalami bercak kecil. Penyemprotan dilakukan satu kali setiap 10 - 14 hari. Untuk pencegahannya dapat dilakukan dengan cara sanitasi areal pertanaman dan perumpisan buah terinfeksi. ( Timpal H.S. Siregar, 2006)
2.4.4. Pengendalian  Gulma
Pegendallian gulma dalam areal pertanaman coklat biasanya dilaksanakan pada masa TBM. Saat iti tajuk belum saling bertemu sehingga masih ada jalur terbuka baik antar barisan maupun didalam barisan itu sendiri.
Paspolum sp, Axonopus compressus, eleusine indica, dan digitaria  sp. Adalah gulma golongan rumpu-rumputan yang umum di dapati pada areal coklat. Selain itu, Ageratum conyzorides dan mikania sp. Juga merupakan gulma berdaun lebar. Pengendalian gulma dapat dilakukan secara manual dan kimiawi di pembibitan, pada saat tanaman masih muda, maupun pada areal TM yang ditumbuhi gulma yang tahan terhadap ketersediaan cahaya minimum.
Di bedeng pembibitan, pengendalian gulma secara kimiawi umumnya dilakukan penyemprotan dengan herbisida pratumbuh. Penyemprotan herbisida pratumbuh diareal pertanaman muda dapat menghambat pertumbuhan Paspalum conjagatum dan Ageratum conyzoides selama 5 – 6 bulan. Bila pengendalian gulma itu dilakukan dengan cara manual, diperlukan 10 – 15 hari kerja per ha.
Pengendalian gulma pada areal cokelat muda terutama juga ditujukan untuk membersihkan piringan tanaman dengan diameter 0,5 m. Disamping itu, pendongkelan anak kayu, anakan cokelat yang tumbuh liar atau pemberantasan ilalang juga harus dilakukan dengan selang waktu tertentu secara teratur.
2.5.  Panen
Buah matang dicirikan oleh perubahan warna kulit dan biji yang melepas dari kulit bagian dalam. Bila buah di guncang, biji biasanya berbunyi. Buah yang tidak dipanen akan mengakibatkan biji berkecambah didalam. Teknik memanen perlu diperhatikan karena pemotongan tangkai buah yang keliru mengakibatkan bunga tidak tumbuh lagi pada tempat tersebut. Pemanenan dapat berlangsung 10 – 21 hari sekali, tergantung pada kepadatan buah matang dan luas areal pertanaman. Buah yang telah dipanen kemudian dipecah. Pengolahan biji cokelat meliputi pembuangan pulp, pematian biji, pembentukan aroma, pengeringan, dan kesesuian kandungan biji serta berat keringnya sehingga siap digunakan untuk berbagai kebutuhan.
Ada 3 perubahan warna kulit buah cokelat yang telah mengalami kematangan. Ketiga perubahan warna kulit itu juga menjadi kriteria kelas kematangan buah dikebun-kebun yang mengusahakan cokelat.
A.  Teknik Memetik Buah
Untuk memanen cokelat digunakan pisau tajam. Bila buah tinggi, pisau disambung dengan bambu/ pisau berbentuk huruf L, dengan bagian tengah agak melengkung. Selama memanen, buah cokelat harus diusahakan untuk tidak melukai batang atau cabang yang akan ditumbuhi buah. Pelukaan akan mengakibatkan bunga tidak akan tumbuh lagi pada tempat tersebut untuk periode berikutnya.
Pemanenan buah cokelat hendaknya dilakukan hanya dengan memotong tangkai buah tepat dibatang atau cabang yang ditumbuhi buah. Dengan demikian, tangkai buah pun tidak tersisa dibatang atau cabang sehingga tidak menghalangi pembungaan pada periode berikutnya.
B.  Organisasi Pemanenan
Pada areal yang cukup luas biasanya disiapkan suatu organisasi pemanenan dengan melibatkan tenaga kerja khusus. Dibawah pimpinan seorang mandor, panen dilakukan pada areal yang kepadatan buahnya sudah ideal untuk dipanen.
Seorang pemanen dapat memanen 1.500 buah cokelat setiap harinya. Hal itu mengisyaratkan perlunya perhitungan tenaga kerja yang tepat, disesuaikan dengan luas areal dan jumlah buah matang.
Buah matang yang kepadatanya cukup tinggi dapat dipanen dengan sistem 6/7. Artinya, areal panen (kaveld), dipetik buahnya enam hari didalam tujuh hari. Kepadatan buah matang yang rendah dapat dilaksanakan dengan sistem 7/14. Artinya, areal panen dipetik buahnya tujuh hari didalam empat belas hari atau dua hari sekali. Penetapan premi panen biasanya didasarkan atas prestasi pemanen, produktivitas, dan tingkat harga biji cokelat.
C.  Pemecahan Buah
Buah yang telah dipanen biasanya dikumpulkan pada tempat tertentu. Buah dikelompokan menurut kelas kematangannya sehingga akan memudahka pengolahannya. Buah dipetik hingga pukul 12.00 untuk kemudian dipecah hingga pukul 12.00.
Pemecahan kulit dilaksanakan dengan menggunakan kayu bulat yang keras. Seorang pemecah terampil sudah akan dapat menggunakan parang tajam tapa mengakibatkan pelukaan pada biji. Buah yang dipecah dipegang dengan menggunakan tangan kiri dengan bagian pangkal menghadap kedalam. Buah kemudian dipukul kearah punggung buah dengan arah miring.
Bila kulit telah terbagi dua, kulit bagian ujung dibuang da tangan kanan menarik biji dari plasenta. Biji kemudian ditempatkan diatas lembaran plastik yang telah disiapkan atau didalam keranjang bambu yang diberi alas. Setelah pemecahan buah selesai, kulit buah sebaiknya dibenamkan pada areal pertanaman. Penanaman kulit buah kedalam tanah dimaksudkan sebagai penambah hara bagi tanaman dan juga untuk menghindari infestasi penggerek buah cokelat (PBC) yang sangat merugikan.
2.6.Pasca Panen
Setelah buah kakao dipanen,hasil buah kakao akan diolah dengan melalui tahapan-tahapan sortasi buah, pemeraman. pemecahan buah, fermentasi biji, pencucian , pengeringan dan sortasi serta pengemasan dan penyimpanan biji kakao.
A.  Sortasi Buah
Sortasi yaitu memisahkan buah yang baik dengan dengan buah yang rusak atau terserang hama/ penyakit. Buah yang terserang hama/ penyakit langsung dibuang dengan cara membenamkannya ke dalam tanah. Selanjutnya buah yang baik diolah lebih lanjut dengan pemeraman atau penyimpanan buah kemudian dipecahkan .
B.  Pemeraman atau Penyimpanan Buah
Pemeraman bertujuan untuk memudahkan pengeluaran biji dari buah kakao. Caranya buah dimasukkan dalam keranjang atau karung goni dan disimpan ditempat yang bersih dengan dialasi daun-daunan ,kemudian tumpukan buah ditutup dengan daun-daunan . Waktu pemeraman berkisar 5 - 12 hari tergantung kondisi setempat dan tingkat kemasakan buah.
C.  Pemecahan Buah Kakao
Pemecahan buah Kakao, dimaksudkan untuk mengeluarkan dan memisahkan biji kakao dari kulit buah dan placentanya. Buah dipecah kulitnya dengan dipukul kearah punggung buah arah miring menggunakan pemukul kayu yang bulat atau dengan memukulkan sesama buah kakao. Dilakukan secara berhati-hati agar tidak melukai atau merusak biji kakao. Bila kulit telah terbagi dua, diambil bijinya dan disimpan dalam plastik atau dalam keranjang yang diberi alas. Setelah pemecahan buah selesai, kulit buah dibenamkan pada tanah areal pertanaman yang dapat sebagai penambah hara bagi tanaman sedalam 0,5 m. Selanjutnya pisahkan biji yang cacat dengan biji yang baik. Fermentasikan biji yang baik, sedangkan biji yang cacat langsung dikeringkan.
D.  Fermentasi Biji Kakao
Merupakan inti pengolahan biji kakao, karena dalam proses ini terbentuknya cita rasa khas coklat. mutu, aroma dan warna coklat cerah dan bersih ,pengurangan rasa pahit dan sepat serta perbaikan kenampakan fisik biji. Proses fermentasi dapat dilakukan didalam wadah fermentasi dapat berupa keranjang bambu atau kotak kayu/ peti yang berlubang disisinya dengan jarak lubang 10 -15 cm dengan diameter 1 cm .Kotak fermentasi sebaiknya dibuat ukuran 40 x 40 cm, tinggi 50 cm untuk skala kecil. Sedang skala besar lebar 100 - 120 cm, panjang 150 - 165 cm, tinggi 50 cm. Cara fermentasi dengan menumpuk biji kakao dengan daun pisang dalam keranjang bambu atau dimasukkan ke dalam kotak kayu atau bisa juga dengan menumpuk diatas ranting-ranting kayu yang dialasi dengan daun pisang, kemudian ditutup dengan daun pisang. Tinggi minimum tumpukan biji dalam kotak 40 cm. Selama fermentasi, biji dihindarkan bersinggungan dengan logam. Biji dibalikkan setelah 48 jam ( hari ke 3) proses fermentasi. Proses fermentasi biasanya berlangsung 4 -6 hari. Setelah hari ke 6 biji-biji dikeluarkan dan siap untuk dijemur.
E.   Perendaman dan Pencucian Biji
Perendaman dan pencucian tidak mutlak dilakukan tergantung permintaan konsumen. Biji kakao dari buah yang sudah diperam selama 5 - 12 hari tidak perlu dicuci karena kadar kulitnya sudah rendah. Pencucian bertujuan untuk menghentikan proses fermentasi, mengurangi lapisan lendir agar pengeringan dapat dipercepat, kadar kulit lebih rendah dan rupa luar lebih menarik. Biasanya biji yang mengalami pencucian menghasilkan kulit biji yang tipis sehingga rapuh dan mudah terkelupas. Sedangkan biji yang tanpa pencucian memiliki rendemen yang tinggi dan kulitnya tidak rapuh. Aroma biji tanpa pencucian juga lebih baik karena tidak ada bagian yang dibilas air. Pencucian yang terlalu bersih dapat menghilangkan selaput lendir dan kehilangan berat serta membuat kulit biji mudah terkelupas. Oleh karena itu disarankan melakukan pencucian setengah bersih agar kenampakan baik, pengeringan cepat dan tidak terlalu menurunkan rendemen (berat). Sebelum dicuci, biji kakao direndam lebih dahulu selama 2 jam untuk meningkatkan jumlah biji bulat, kenampakan menarik. Pencucian dilakukan secara manual dengan tangan atau dengan dengan mesin cuci selama 1 jam.
F.   Pengeringan
Setelah biji dicuci, ditiriskan dan dikeringkan. Pengeringan dapat dilaksanakan dengan penjemuran atau pengering buatan atau kombinasi keduanya. Tujuan pengeringan untuk menurunkan kadar air dari 60 % menjadi 6 - 7 %. dan menyempurnakan pembentukan aroma dan warna. Pengeringan dapat dilakukan dengan menjemur biji kakao dengan menggunakan balai bambu setinggi 1 m dari tanah atau diatas terpal/ lantai jemur. Tinggi tumpukan tidak lebih dari 3 lapis biji (tebal 3- 5 cm). Lama penjemuran 6 hari sampai biji benar-benar kering. Dibalik 1- 2 jam sekali, tergantung cuaca.Dengan pengeringan buatan pada temperatur 55 - 60 derajat celcius selama 30 jam dengan pembalikan biji setiap 3 jam. Kriteria biji kering : rapuh atau mudah patah.
Sortasi biji kering, merupakan tahap terakhir dari pengolahan untuk menentukan mutu biji kakao. Tujuannya untuk memisahkan biji kakao dari kotoran yang terikut, biji yang pecah, rusak atau benda asing lainnya. Selain itu memisahkan biji berdasar kenampakan fisik dan ukuran/ berat biji. Sortasi dilakukan secara visual dengan membuang biji-biji yang jelek dan mutu rendah. Penetapan kualitas biji didasarkan dari kulit ari, kadar lemak dan kadar air.
G.  Pengemasan dan Penyimpanan

Biji yang telah disortasi dikemas dalam karung goni yang berukuran minimum 60 kg disimpan dalam gudang yang bersih dan memiliki ventilasi udara yang baik. Sebaiknya berlantai beton dan beralaskan balok-balok kayu sehinggga tumpukan goni tidak langsung menyentuh lantai. Penyimpanan dianjurkan tidak melebihi 3 bulan. Penyimpanan selama 3 bulan masih dapat mempertahankan mutu biji. Lebih dari 3 bulan telah ditumbuhi jamur dan asam lemak bebas akan meningkat.





Senin, 11 Mei 2015



SISTEM PERTANIAN TERPADU



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
      Pelaksanaan pembangunan nasional tidak hanya pada sektor – sektor industri atau semacamnya. Pertanian juga merupakan sektor dalam menuju pembangunan nasional. Apalagi di Indonesia yang merupakan negara agraris. Banyak jenis usaha yang dapat dilakukan untuk memajukan tingkat ekonomi melalui sektor pertanian. Mengkolaborasikan pertanian dengan bidang tertentu dapat dihasilkan manfaat yang lebih besar lagi. Dunia pertanian (perkebunan, pertanian tanaman pangan, peternakan) merupakan usaha yang mampu memberi nilai ekonomis dan meningkatkan kemantapan swasembada produk pertanian untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.  Pelaksanaan usaha pertanian saat ini kebanyakan masih dilaksanakan secara parsial sehingga eksplorasi usaha yang dapat saling mendukung tidak dapat optimal.  Pelaksanaan usaha pertanian yang saling terintegrasi akan menciptakan suatu konsep usaha yang akan saling melengkapi dan meniadakan limbah pertanian yang biasanya terjadi.
      Pola pertanian terpadu sendiri merupakan suatu pola yang mengintegrasikan beberapa unit usaha dibidang pertanian yang dikelola secara terpadu, berorientasi ekologis sehingga diperoleh peningkatan nilai ekonomi, tingkat efisiensi dan produktifitas yang tinggi. Melalui pertanian terpadu, akan dapat dihasilkan produk-produk pertanian, perkebunan dan peternakan melalui sinergitas antar unit dengan mengedepankan kelestarian lingkungan yang selanjutnya akan menghasilkan peningkatan secara ekonomis karena penambahan nilai daya dan guna melalui efisiensi dan efektifitas tinggi serta nilai produktifitas usaha yang baik.
1.2     Rumusan Masalah
a.   Apa yang dimaksud dengan sistem pertanian terpadu?
b.   Apa sajakah jenis-jenis sistem pertanian terpadu?

BAB II
PEMBAHASAN

Pertanian pada umumnya dikenal hanya sebagai tanah dan tanaman yang dikelola. Namun di luar itu pertanian mempunyai peranan lain yang berhubungan dengan bidang lain. Peranan ini tentunya menguntungkan bagi kedua bidang. Hubungan antara pertanian dengan bidang lain yang di dalamnya dapat menghasilkan keuntungan bagi masing-masing bidang.
Sistem pertanian terpadu merupakan sistem di mana pertanian dapat bermanfaat dan berperan penting dalam suatu bidang tertentu baik itu secara langsung maupun tidak langsung, begitu pula sebaliknya. Namun, tentunya tidak semua bidang dapat menerapkan sistem pertanian di dalamnya. Umumnya bidang-bidang tersebut mempunyai hubungan tertentu yang lebih spesifik dengan pertanian. Adapun beberapa bidang yang di dalamnya pertanian dapat diterapkan, di antaranya adalah perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan dan wisata.


1.       Pertanian – Kehutanan
Sistem pertanian terpadu pertanian-kehutanan digunakan untuk mengurangi penebangan hutan untuk lahan pertanian, dan menjadi solusi untuk keterbatasan lahan pertanian. Salah satu bentuk system pertanian terpadu pertanian-kehutanan adalah agroforestry yaitu penanaman tanaman tahunan, dengan tanaman semusim. Tanaman tahunan, dalam bentuk tanaman hutan, keras, guna untuk rehabilitasi, disamping untuk rehabilitasi, ditanamkan juga tanaman semusim untuk faktor ekonomi.
Beberapa ciri penting agroforestri yang dikemukakan oleh Lundgren dan Raintree (1982) adalah:
a. Agroforestri biasanya tersusun dari dua jenis tanaman atau lebih (tanaman dan/atau hewan).
b. Siklus sistem agroforestri selalu lebih dari satu tahun.
c. Ada interaksi (ekonomi dan ekologi) antara tanaman berkayu dengan tanaman tidak berkayu.
d. Selalu memiliki dua macam produk atau lebih (multi product), misalnya pakan ternak, bakar, buah-buahan, obat-obatan.
e.     Minimal mempunyai satu fungsi pelayanan jasa (service function), misalnya pelindung angin, penaung, penyubur tanah, peneduh sehingga dijadikan pusat berkumpulnya keluarga/masyarakat.
f.    Untuk sistem pertanian masukan rendah di daerah tropis, agroforestri tergantung pada penggunaan dan manipulasi biomasa tanaman terutama dengan mengoptimalkan penggunaan sisa panen.
g.   agroforestri yang paling sederhanapun secara biologis (struktur dan fungsi) maupun ekonomis jauh lebih kompleks dibandingkan sistem budidaya monokultur.
Agroforestri dapat dilihat pada sistem penanamannya. Contohnya adalah penanaman tanaman semusim diberi sela dengan tanaman tahunan. Padi dengan pematang sawah berupa pohon nangka atau pohon sengon dapat dijadikan contoh dari sistem ini.
Manfaat pertanian dalam kehutanan adalah dengan mengetahui sistem penanaman yang benar dapat dihasilkan produk yang lebih. Di sisi lain lingkungan terjaga dengan adanya tumbuhan (yang hidup/ daya panennya dalam jangka waktu lama) yang dapat menjaga kadar air tanah, manusia juga mendapatkan hasilnya di saat panen. Selain itu, keberadaan sistem ini juga dapat menjadikan kelestarian alam lebih terjaga dan rapi.
2.       Pertanian – Perikanan
Kaitan antara bidang pertanian dan perikanan tentunya ada pada pertanian dengan sistem yang membutuhkan air cukup banyak, misalnya pada lahan sawah irigasi. Pada lahan ini dapat dilakukan usaha tani berupa mina padi. Secara umum mina padi berarti memanfaatkan air pada saat penanaman padi untuk kehidupan ikan.
Sistem mina padi merupakan cara pemeliharaan ikan di sela-sela tanaman padi, sebagai penyelang diantara dua musim tanam padi atau pemeliharaan ikan sebagai pengganti palawija di persawahan. Jenis ikan yang dapat dipelihara pada sistem tersebut adalah ikan mas, nila, mujair, karper, tawes dan lain-lain. Ikan mas dan karper merupakan jenis ikan yang paling baik dipelihara di sawah, karena ikan tersebut dapat tumbuh dengan baik meskipun di air yang dangkal, serta lebih tahan terhadap matahari. Agar pertumbuhan tanaman padi tidak terganggu, pemeliharaan ikan di sawah harus disesuaikan dengan sistem pengairan yang ada, sehingga produksi padi tidak terganggu.
Usaha mina padi selain merupakan usaha yang menguntungkan, juga dapat meningkatkan pendapatan petani, serta membantu program pemerintah dalam usaha memenuhi gizi keluarga.

Potensi Minapadi dalam Mendukung Produksi Ikan Nasional
Salah satu langkah yang perlu dilakukan dalam pengelolaan padi sawah yaitu pengelolaan tanah yang meliputi: penggenangan, perbaikan pematang, pembabadan jerami, pembajakan dan pencangkulan serta pemerataan permukaan tanah. Selain itu, pada saat awal dilakukan penanaman padi, tidak banyak yang dapat dilakukan petani selain melakukan pengeringan tanah untuk menekan serangan keong mas, menyemprot hama dan menunggu tanaman padi membesar. Sayangnya kegiatan-kegiatan tersebut kurang memberikan nilai tambah bagi petani sebaliknya mengeluarkan cukup banyak biaya.Sebaliknya dengan sistem minapadi, petani bisa mendapatkan beberapa keuntungan diantaranya meningkatnya produktifitas lahan, memperoleh pendapatan dari panen padi dan ikan dan berkurangnya biaya produksi. Dalam sistem minapadi, setelah proses pengolahan tanah sambil menunggu menunggu waktu tanam, lahan ditanami bibit ikan dan dipelihara selama 30-40 hari. Selanjutnya ikan dipanen dan dilakukan penanaman padi. Penanaman bibit ikan baru dilakukan beberapa hari kemudian dan dilakukan pemeliharaan selama 30 sampai 40 hari. Dengan demikian dalam sekali siklus budidaya minapadi dapat dilakukan pemanenan ikan 2 kali dan sekali pemanenan padi.
Selain itu penerapan minapadi dapat menekan pertumbuhan gulma, mengurangi serangan hama dan penyakit dan meningkatkan jumlah musuh alami bagi hama tanaman (Lu dan Li, 2006).   Benih ikan memakan plankton dan organisme kecil lain yang jatuh atau terdapat di air termasuk telur dan larva hama padi. Hal ini menguntungkan karena ikan yang dipelihara memperoleh makanan tambahan. Selain itu, berkurangnya aplikasi pestisida dalam budidaya minapadi memberi keuntungan lain karena mendorong berkembangnya musuh alami bagi hama padi. Dengan berkurangnya aplikasi pestisida selain memberi keuntungan bagi petani dengan berkurangnya biaya produksi, juga memberi keuntungan bagi kesehatan manusia dan pelestarian lingkungan.
Dengan potensi lahan persawahan Indonesia yang cukup besar yakni mencapai 7 juta hektar maka produksi perikanan yang cukup besar bisa diperoleh dari penerapan minapadi. Sehubungan dengan besarnya potensi tersebut maka Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah mengembangkan program ”gerakan sejuta hektar mina padi” atau disingkat GENTANADI. Dari program tersebut selain produksi ikan nasional akan meningkat juga memberi manfaat bagi meningkatnya kesejahteraan masyarakat khususnya petani.
Optimalisasi Kondisi Lingkungan Untuk Budidaya Minapadi
Pada prinsipnya kondisi sawah yang cenderung selalu tergenang air memungkinkan untuk budidaya ikan. Namun kenyataanya sawah yang didesain hanya untuk budidaya padi kondisinya kurang optimum untuk budidaya ikan. Sebagai contoh, petani melakukan pengeringan pada pertanaman padi untuk melakukan penyiangan, menekan perkembangan hama keong dan mendorong berkembangnya anakan padi. Kondisi tersebut tentu tidak cocok untuk budidaya ikan.  Selain itu aplikasi pestisida untuk membunuh hama dalam pertanaman padi dapat membunuh ikan budidaya. Oleh karena itu, agar sawah dapat sesuai untuk budidaya minapadi maka desain dan pengelolaan sawah harus dapat mendukung untuk pertumbuhan ikan dan padi. Lebih lanjut perbandingan kebutuhan lingkungan antara padi sawah dan ikan dapat dilihat pada Tabel 1.
 Perbandingan kebutuhan lingkungan antara ikan dan padi.
Sumber: Halwart and Gupta,  2004.
Agar kondisi lahan sawah ideal bagi budidaya minapadi maka beberapa modifikasi perlu dilakukan. Pada dasarnya modifikasi yang dilakukan adalah untuk memperdalam area bagi budidaya ikan tanpa membuat tanaman padi tergenang lebih dalam serta meminimalkan akses ikan masuk lokasi budidaya padi.  Paling tidak ada empat perbaikan fisik untuk budidaya minapadi yaitu: 1) meningkatkan tinggi pematang sehingga meningkatkan tinggi genangan dan meminimalkan kerusakan bila lokasi terendam air; 2) memasang jaring atau pembatas sehingga ikan tidak melarikan diri serta melindungi dari masuknya predator; 3) melakukan pengeringan; dan 4) membuat daerah yang lebih dalam untuk perlindungan ikan.  Contoh desain kemalir dan pematang dapat dilihat pada Gambar 2. Bentuk parit atau kemalir dan lebarnya disesuaikan dengan luas petakan sawah, yaitu 2-3 % sedangkan dalam kemalir adalah 20-30 cm. Contoh beberapa bentuk desain kemalir ditampilkan pada Gambar 3:Gambar 2.  Contoh disain caren (kemilir) dan pematang.
Gambar 3. Desain dan konstruksi parit di mina padi. (Koesoemadinata and Costa-Pierce 1992).
Kawasan Minapadi untuk Mendukung Wisata Lingkungan (Ekowisata)
Istilah “ekowisata” dapat diartikan sebagai perjalanan oleh seorang turis ke daerah terpencil dengan tujuan menikmati dan mempelajari mengenai alam, sejarah dan budaya di suatu daerah, di mana pola wisatanya membantu ekonomi masyarakat lokal dan mendukung pelestarian alam. Prinsip-prinsip pengembangan ekowisata berbasis masyarakat dan konservasi adalah keberlanjutan ekowisata dari aspek ekonomi, sosial dan lingkungan (prinsip konservasi dan partisipasi masyarakat); 2) Pengembangan institusi masyarakat lokal dan kemitraan (Prinsip partisipasi masyarakat); 3) Ekonomi berbasis masyarakat (Prinsip partisipasi masyarakat); dan Prinsip Edukasi. Ekowisata memberikan banyak peluang untuk memperkenalkan kepada wisatawan tentang pentingnya perlindungan alam dan penghargaan terhadap kebudayaan lokal.
Salah satu bentuk wisata yang marak berkembang belakangan ini adalah wisata pertanian dimana wisatawan terlibat langsung dalam kegiatan pertanian seperti membajak sawah, bercocok tanam, berternak, memancing dan berbagai kegiatan pertanian lainnya.  Berbagai daerah diketahui telah mengembangkan wisata pertanian seperti Desa Cinangneng, Bogor, Desa Kebonagung di Jogjakarta dan lain-lain.

Pengembangan minapadi pada kawasan pertanian sawah akan lebih meningkatkan daya tarik wisata pertanian karena lebih banyak variasi wisata yang dapat diperoleh serta sifatnya yang ramah lingkungan.  Pada lokasi minapadi, wisatawan tidak hanya menemukan padi di lahan persawahan tetapi juga dapat menemukan ikan. Berbagai kegiatan yang berkaitan dengan perikanan juga dapat dikembangkan sebagai alternatif wisata seperti memancing dan menjala ikan, memberi makan ikan dan lain lain.  Disisi lain sistem budidaya minapadi yang dapat mengurangi penggunaan bahan-bahan kimia seperti pupuk dan pestisida pengaruhnya yang baik dalam meningkatkan musuh alami dari hama dan penyakit tanaman padi memungkinkan dihasilkannya produk pertanian organik yang lebih sehat.
Dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya makanan sehat seperti produk organik, maka proses produksi bahan organik juga dapat menjadi daya tarik khusus bagi wisatawan sekaligus media pendidikan yang baik untuk kampanye pentingnya perlindungan alam dan penghargaan terhadap kebudayaan lokal.

3.      Pertanian – Peternakan
Hubungan antara pertanian dengan peternakan dalam sistem pertanian terpadu sangat beraneka ragam, tergantung pada sudut pandang yang diambil. Salah satu manfaat dari mempelajari sistem pertanian terpadu adalah bisa mengetahui hubungan saling ketergantungan antara pertanian dengan peternakan. Selain itu dapat pula diketahui berbagai keuntungan yang bisa diambil saat mempelajari hubungan antara sistem pertanian dengan peternakan.
Keuntungan yang bisa diambil dari peternakan bagi pertanian adalah pemanfaatan tenaga hewan ternak untuk kepentingan pertanian. Contoh manfaat yang bisa diambil dari peternakan adalah kotoran hewan ternak dapat digunakan sebagai pupuk kandang bagi tanaman. Tenaga hewan ternak juga dapat digunakan sebagai tenaga pengolah lahan dan dapat juga dimanfaatkan sebagai tenaga pengangkutan hasil pertanian di  mana akan menghemat biaya karena tidak membutuhkan bahan bakar layaknya kendaraan bermotor.
Sama dengan peternakan, pertanian pun sangat bermanfaat bagi dunia peternakan. Salah satu faktor yang harus terpenuhi dalam peternakan adalah kebutuhan akan pakan ternak Dari pertanian akan dihasilkan bahan-bahan yang dapat diolah menjadi pakan ternak. Pertanian sangat berperan dalam memenuhi keutuhan pakan ternak karenatidak semua hewan ternak dapat diberi pakan dengan bahan makanan yang diambil dari alam. Banyak hewan ternak yang pemenuhan pakannya sangat bergantung pada pertanian. Contohhewan ternak yang membutuhkan pertanian adalah unggas. Pada umumnya unggas memakan biji-bijian di mana biji-bijian ini hanya akan diperoleh dengan pertanian. Oleh sebab itu, keberadaan pertanian menjadikan kebutuhan pakan ternak akan mudah terpenuhi.
Namun permasalahan yang cukup mengkhawatirkan dalam peternakan adalah persaingan antara pakan dan pangan. Sistem pemberian pakan dalam peternakan menggunakan sumberdaya yang sama dengan yang dimakan manusia. Serealia dan tepung kedele adalah komponen terbesar pakan ternak yang juga dikonsumsi oleh manusia. Diperkirakan hampir 50% dari supply biji-bijian dunia dikonsumsi ternak. Jika semua biji-bijian dunia dicadangkan untuk konsumsi manusia saja maka akan cukup untuk memberi makan 9 – 10 milyar penduduk dunia   pada   titik   mana  populasi  dunia  diharapkan  akan  stabil. Oleh karena itu, pemecahan terhadap masalah memenuhi kebutuhan pangan di tahun mendatang adalah mengembangkan sistem produksi ternak yang tidak tergantung pada biji-bijian serealia.
Keuntungan lain dari alternatif sistem pakan bukan biji-bijian akan membawa kepada pengurangan kontaminasi lingkungan, meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan keragaman hayati dan produk ternak yang lebih baik mutunya. Karenanya tiap intervensi yang melibatkan ternak harus didasarkan pada peran sinergis mereka dalam manfaat sistem pertanian keseluruhan ketimbang sebagai penghasil daging, susu atau telur yang menggunakan pakan bersaing dengan kebutuhan manusia. Sistem peternakan yang menggunakan pakan sama dengan pangan hanya akan mengakumulasi masalah dimasa mendatang, apalagi sekarang pangan tidak hanya digunakan sebagai pakan tetapi juga energi. Tentu diperlukan terobosan dalam bidang peternakan untuk menjaga keberlanjutan sistem pertanian secara keseluruhan.

4.      Pertanian – Wisata
         Hubungan antara pertanian dengan wisata sering disebut dengan agrowisata. Agrowisata adalah salah satu bentuk pariwisata yang obyek wisata utamanya adalah lanskap pertanian, maka dapat dikatakan bahwa agrowisata merupakan wisata yang memanfaatkan obyek-obyek pertanian. Agrowisata juga merupakan kegiatan wisata yang terintegrasi dengan keseluruhan sistem pertanian dan pemanfaatan obyek-obyek pertanian sebagai obyek wisata, seperti teknologi pertanian maupun komoditi pertanian.
         Beberapa sumber menjelaskan bahwa agrowisata adalah salah satu bentuk kegiatan wisata yang dilakukan di kawasan pertanian yang menyajikan suguhan pemandangan alam kawasan pertanian (farmland view) dan aktivitas di dalamnya seperti persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan, pengolahan hasil panen sampai dalam bentuk siap dipasarkan dan bahkan wisatawan dapat membeli produk pertanian tersebut sebagai oleh-oleh. Agrowisata tersebut ikut melibatkan wisatawan dalam kegiatan-kegiatan pertanian.
        Agrowisata umumnya berada pada daerah yang memiliki iklim dingin atau dengan kata lain ada pada dataran tinggi di mana pertanian dapat terlaksana dengan baik. Pengembangan wisata dengan metode pertanian memiliki kesenangan tersendiri. Di dalamnya para wisatawan dapat mengetahui lebih lanjut tentang pertanian dan bahkan dapat melakukannya. Pendekatan ini secara tidak langsung menambah pengetahuan mengenai pertanian bagi para wisatawan. Selain itu, dengan adanya agrowisata petani dan masyarakat sekitar pun  mendapatkan pendapatan yang lebih. Keberadaan tempat wisata menyebabkan masyarakat turut berperan dalam meramaikan pasarnya.
         Manfaat lain dari agrowisata adalah kelestarian alam sekitar terjaga. Agrowisata pada prinsipnya merupakan kegiatan industri yang mengharapkan kedatangan konsumen secara langsung ditempat wisata yang diselenggarakan. Aset yang penting untuk menarik kunjungan wisatawan adalah keaslian, keunikan, kenyamanan, dan keindahan alam. Oleh sebab itu, faktor kualitas lingkungan menjadi modal penting yang harus disediakan, terutama pada wilayah-wilayah yang dimanfaatkan untuk dijelajahi para wisatawan. Menyadari pentingnya nilai kualitas lingkungan tersebut, masyarakat/petani setempat perlu diajak untuk selalu menjaga keaslian, kenyamanan, dan kelestarian lingkungannya.
      Beberapa contoh agrowisata di Indonesia adalah agrowisata di Pagilaran,  Tamah Buah Mekarsari, agrowisata di daerah Guci, Tegal, Kebun Teh Kaligua, Agrowisata Durian H. Djahuri di Semarang, Agrowisata Kusuma di Batu, Malang, dan masih banyak lagi.

BAB III
PENUTUP
3. 1    Kesimpulan
      Berdasarkan penjelasan yang telah dijabarkan dapat disimpulkan bahwa:
 a. sistem pertanian terpadu merupakan sistem di mana pertanian dapat bermanfaat dan berperaN penting dalam suatu bidang tertentu, begitu pula sebaliknya.
 b. beberapa macam sistem pertanian terpadu seperti pertanian – perkebunan, pertanian – kehutanan, pertanian – peternakan, pertanian – perikanan, dan pertanian – wisata.
3. 2    Saran
     Dalam makalah ini tidak sepenuhnya menuliskan tentang topik secara sempurna. Tentunya membutuhkan sumber lain sebagai pedoman selanjutnya sehingga didapat wawasan lebih luas lagi. Saran untuk pembaca, lebih baik lagi apabila membaca sumber lain mengenai topik ini agar didapat pengetahuan lebih lanjut lagi.



DAFTAR PUSTAKA



 
Blogger Templates