Yumina dan Bumina, Aquaponik Gaya
Gunungkidul
Jakarta (TROBOS.COM). Salah satu konsep
yang dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan pembudidaya ikan adalah dengan
aplikasi integrasi usaha ikan dengan usaha budidaya tanaman sayuran dan buah
yang dikenal dengan nama aquaponik.
Dalam memoar pendampingan yang dilakukan Budi Wardono, penanggung jawab program
KIMBis Balitbang KP wilayah Gunungkidul disebutkannya, konsep ini kini
disempurnakan dengan berbagai tambahan ide yang lebih segar. Jadilah konsep
Yumina dan Bumina branded Gunungkidul.
Seputar Yumina dan Bumina branded Gunungkidul ini, Widodo sebagai inisiator dan
konseptornua menjelaskan panjang lebar. Memaksa pendengarnya terkaget-kaget dan
kagum atas inisiatif orisinalitas ide dan konsep yangdikembangkan.
Ke depan implementasi Bumina dan Yumina branded Gunungkidul perlu dikemas dalam
konsep landscape sehingga bisa menjadi lahan bisnis bagi KIMBis (Klinik Iptek
Mitra Bisnis - sebuah program transfer teknologi dan penguatan
kelembagaan dari Badan Litbang KKP) yang menguntungkan dan menjadi model
pengembangan konsep Bumina dan Yumina di perkotaan yang mempunyai keterbatasan
lahan.
Penerapan prinsip-prinsip usaha telah
diterapkan dan mempunyai prospek bisnis yang menjanjikan. Pengemasan dalam
sistem usaha modern dan kekinian sangat diperlukan agar produk bisnis yang
dihasilkan bisa laku dan mempunyai segmen pasar yang luas. Widodo sebagai
konseptor Yumina dan Bumina telah mengimplementasikan konsep tersebut sejak
tahun 2000an dengan menanam beberapa jenis tanaman seperti cabai, terong dan
beberapa macam sayuran
Konsep tersebut dikembangkan dengan sistem vertikal yang lebih efisien tempat
dengan sistem irigasi dengan pompa listrik mini menggunakan air yang berasal
dari kolam yang berfungsi sebagai pupuk alami. Air kolam ikan kaya senyawa
nitrogen yang berasal dari sisa makanan dan kotoran ikan. Konsep ini diterapkan
dengan memanfaatkan limbah botol aqua dan batang bambu sebagai tempat media
untuk tanaman dan buah yang ditanam.
Bambu diperoleh dari masyarakat sekitar sedangkan botol-botol aqua diambil dari
tempat pengepul barang bekas. Dengan memanfaatkan bahan-bahan tersebut
penerapan konsep Yumina dan Bumina tidak memerlukan biaya yang besar.
Untuk lahan kolam yang luasnya sekitar 300m2 Widodo mengaku hanya mengeluarkan
biaya sekitar 1 juta, di luar biaya tenaga kerja. Produk Yumina dan Bumina ini
sudah mendekati produk yang organik sehingga qdiharapkan mempunyai pangsa pasar
khusus dengan harga yang jauh lebih mahal dari produk buah dan sayuran biasa.
Konsep ini secara lebih praktis sudah diterapkan dan ditularkan kepada
kelompok wanita tani (KWT) Simo II yang telah berhasil mengaplikasikan konsep
tersebut mengki masih menggunakan lahan usaha tani terutama di pekarangan dan
pematang-pematang lahan sawah. Bahkan Menteri Pertanian dikabarkan akan
mengunjungi KWT tersebut untuk melakukan panen.
Konsep Yumina dan Bumina Branded Gunungkidul akan dikembangkan dengan konsep
landscape sehingga akan menghasilkan Bumina dan Yumina Branded yang siap
diluncurkan untuk pemanfaatan diwilayah perkotaan. Istimewa/Nuruddin.
