BUDIDAYA
TANAMAN KAKAO
Kakao secara garis besar dapat
dibagi menjadi dua tipe besar, yaitu Criollo (Amerika Tengah dan Amerika
Selatan) dan Forastero (Amazona dan Trinitario). Tanaman kakao dapat
diperbanyak dengan cara generativ ataupun vegetatif. Kakao lindak umumnya
diperbanyak dengan benih dari klon-klon induk yang terpilih. Sedangkan kakao
mulia umumnya diperbanyak secara vegetatif. Namun, kakao lindak pun dewasa ini
juga sering diperbanyak secara vegetatif untuk meningkatkan mutu dan hasil.
Budidaya kakao sangat ditentukan oleh tersedianya benih dan bibit yang baik
untuk menjamin tersedianya benih yang bermutu, maka dewasa ini di Indonesia
terdapat sekitar 10 produsen benih (F.X. Susanto, 1994).
Tanaman kakao merupakan salah satu komoditas andalan
perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional di
Indonesia, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, dan sumber pendapatan.
Selain itu, kakao juga berperan dalam mendorong pengembangan wilayah dan
pengembangan agroindustri. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam
mengusahakan tanaman kakao adalah penggunaan bibit unggul dan bermutu. Tanaman
kakao merupakan tanaman tahunan, karena itu kesalahan dalam pemakaian bibit
akan berakibat buruk dalam pengusahaannya, walaupun diberi perlakuan kultur
teknis yang baik tidak akan memberikan hasil yang diinginkan, sehingga modal
yang dikeluarkan tidak akan kembali karena adanya kerugian dalam usaha tani.
Untuk menghindari masalah tersebut, perlu dilakukan cara pembibitan kakao yang
baik.
Pembibitan adalah suatu kegiatan untuk menghasilkan atau
memproduksi bibit. Kegiatan yang dilakukan dalam pembibitan terdiri dari
perencanaan pembibitan, pembangunan persemaian, penyiapan media bibit,
perlakuan pendahuluan terhadap benih sebelum disemaikan, penyemaian benih,
penyapihan bibit, pemeliharaan bibit, pengepakan dan pengangkutan bibit serta
administrasi pembibitan (Willy, 2010).
Faktor yang mempengaruhi pembibitan tanaman kakao seperti juga
tanaman perkebunan yang lain adalah air, cahaya matahari, unsur hara, suhu, dan
kelembaban. Pertumbuhan vegetatif bibit terbagi atas pertumbuhan daun, batang
dan akar. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pertumbuhan daun dan batang
ialah hormon dan nutrisi (faktor dalam), status air dalam jaringan tanaman,
suhu udara dan cahaya (faktor luar). Pertumbuhan akar dipengaruhi suhu media
tumbuh, ketersediaan oksigen (aerasi), faktor fisik media tumbuh, pH media
tumbuh, selain faktor dalam dan status air dalam jaringan tanaman. Pertumbuhan
daun dan perluasan batang menentukan luas permukaan daun dan struktur tajuk
yang sangat penting sehubungan dengan proses fotosintesis. Sedangkan perluasan
akar akan menentukan jumlah dan distribusi akar yang kemudian akan berfungsi
kembali sebagai organ penyerap unsur hara mineral.
Kakao merupakan salah satu komoditas ekspor yang dapat
memberikan kontribusi untuk peningkatan devisa Indonesia. Indonesia merupakan
salah satu negara pemasok utama kakao dunia setelah Pantai Gading (38,3%) dan
Ghana (20,2%) dengan persentasi 13,6%. Permintaan dunia terhadap komoditas
kakao semakin meningkat dari tahun ke tahun. Namun, kualitas biji kakao yang
diekspor oleh Indonesia dikenal sangat rendah. Hal ini disebabkan oleh pengelolaan
produk kakao yang masih tradisional (85% biji kakao produksi nasional tidak
difermentasi) sehingga kualitas kakao Indonesia menjadi rendah. Kualitas rendah
menyebabkan harga biji dan produk kakao Indonesia di pasar internasional
dikenai potongan sebesar USD 200/ton atau 10-15 % dari harga pasar. Selain itu,
beban pajak ekspor kakao olahan (sebesar 30%) relatif lebih tinggi dibandingkan
dengan beban pajak impor produk kakao (5%), kondisi tersebut telah menyebabkan
jumlah pabrik olahan kakao Indonesia terus menyusut. Selain itu para pedagang
(terutama trader asing) lebih senang mengekspor dalam bentuk biji kakao atau
non olahan (Rohman, 2009).
Daerah utama pertanaman kakao
adalah hutan hujan tropis di Amerika Tengah, tepatnya pada wilayah 18o Lintang
Utara sampai 15o Lintang Selatan. Daerah-daerah dari selatan Meksiko sampai ke
Bolivia dan Brazilia adalah tempat-tempat tanaman kakao tumbuh sebagai tanaman
liar. Beberapa spesies Theobroma yang diketahui, antara lain Theobroma bicolor,
Theobroma sylvestris, Theobroma pentagona, dan Theobroma augustifolia,
merupakan spesies yang pada awalnya juga dimanfaatkan sebagai penghasil biji
sebagai campuran.
A. Sistematika
Kakao atau yang lebih dikenal dengan sebutan cokelat merupakan
tanaman yang menumbuhkan bunga dari batang atau cabang. Karena itu tanaman ini
digolongkan kedalam kelompok tanaman caulifloris. Adapun sistematikanya menurut
klasifikasi botanis sebagai berikut :
Divisio :
spermatophyta
Klas : Dicotyledon
Ordo : Malvales
Famili :
Sterculiceae
Genus : Theobroma
Spesies : Theobroma
cacao.
B. Jenis
Pada tahun 1937-1938 F.J. Pound mengadakan ekspedisi ke
Equador, lembah Amazona, dan Kolumbia untuk mendapatkan bahan tanam cokelat.
Dari ekspedisi itu terkumpul 320 buah yang berasal dari 80 pohon terpilih yang
tahan akan Witches Broom Diseases. Di Equador sebanyak 250 buah asal 25 pohon
yang sama ketahanannya juga dikumpulkan dari Iquitos Island (yang kelak cokelat
ini dikenal sebagai klon IMC), Rio Nanai (klon Na), Parinary di Rio Nararion
(klon Pa), Rio Morona, dan Rio Ucuyali (klon Sca) di Peru. Tahun 1942 ekspedisi
itu diulang kembali ke lembah Amazona untuk mendapatkan batang atas okulasi.
Hasil ekspedisi Pound inilah yang kelak digunakan untuk mendapatkan bahan tanam
klon maupun biji melalui seleksi dan hibridisasi.
E.E. Cheesman – pada tahun 1942 – yang mulai melaksanakan
program pemuliaan di Trinidad, yang bahan tanamnya merupakan hasil dari
ekspedisi F.J. Pound. Klon – klon Sca dan Pa dikenal tahan akan penyakit busuk
buah (black pods), sedangkan klon IMC tahan akan Cocoa swollen disease. Lebih lanjut
cokelat dibedakan oleh cheesman atas dua jenis yaitu criollo dan Forastero.
Namun sebelum seorang ahli lain telah lebih dlu membedakan cokelat ata tiga
jenis, yaitu Criollo, forastero, dan Calabacillo. Tapi, karena Calabacillo
ternyata memiliki sifat-sifat yang sama dengan Forastero maka Cheesman
memasukkannya kedalam kelompok Forastero. Jenis Forastero meliputi cokelat yang
buahnya bertipe Angoleta, Cundeamor, Amelonado, dan Calabacillo.
Perkembangan penelitian terhadap cokelat telah pula membawa
perubahan didalam penggolongan cokelat menurut jenisnya. Oleh Cheesman,
Criollo, dan Forastero dibedakan lagi atas Central American Criollos dan South
Criollos serta Amazone Forastero. Saat ini bahan tanaman cokelat yang banyak
digunakan adalah Upper Amazone Hybrids, karena produksinya tinggi dan cepat
sekali mengalami fase generatif.
Bahan tanam klon Na, Pa, Sca adalah contoh UAH yang saat ini
banyak digunakan sebagai bahan tanam, demikian juga Amelonado dari cokelat
jenis Lower Amazone Forastero, serta ICS dan DR dari jenis Trinitario.
Penelitian selanjutnya menghasilkan bahan tanam biji hibrida F2 hasil
persilangan beberapa klon, maupun klon sebagai bahan tanam, dan tetua anjuran.
Di Malaysia dikembangkan bahan tanam hasil persilangan beberapa nomor klon Sca,
Na, dan Pa serta Amelonado untuk menghasilkan biji hibrida F1 unggul. Demikian
juga klon-klon anjuran Prang Besar Clones (PBC) dengan berbagai nomor hasil
seleksi.
Di Jawa Timur dilakukan hal sama dengan menyilangkan klon DR
serta Sca. Di PT Perkebunan VI usaha mendapatkan bahan tanam unggul
dilaksanakan dengan menyeleksi bahan tanam biji hibrida F1 untuk menghasilkan
bahan tanam biji hibrida F2. Di PT perkebunan II, pembangunan Kebun Benih
Cokelat yang mengelola sepuluh klon dengan berbagai nomor dari TSH, Sca, serta
Pa, dan ICS telah menghasilkan bahan tanam hibrida F1 (identified hybrids).
Saat ini, dari hasil ekspedisi yang dilaksanakan oleh London
Cocoa Trade sepanjang tahun 1980 – 1983 teah dikoleksi 250 bahan tanam
vegetatif dari daerah pusat pertanaman cokelat. Sebanyak 577 buah dari 578
pohon telah pula disimpan di Brazilia, ia sebagai koleksi berbagai jenis
cokelat. (Tumpal H.S. Siregar, 2006)
2.1.2. Morfologi
Cokelat telah dikenal di Indonesia sejak tahun 1560, tetapi
baru menjadi komoditi yang penting sejak
tahun 1951. Pemerintah mulai menaruh perhatian dan mendukung industri cokelat
pada tahun 1975 setelah PTP VI berhasil menaikkan produksi cokelat per Ha,
dengan menggunakan bibit Upper Amazone Interclonal Hybrid, yang merupakan hasil
persilangan antarklon dan sabah. (Tumpal H.S. Siregar 2006)
A. Akar
Akar cokelat adalah akar tunggang (radix primaria).
Pertumbuhan akar cokelat bisa sampai 8 meter kearah samping dan 15 meter kearah
bawah. Cokelat yang diperbanyak secara vegetatif pada awal pertumbuhannya tidak
menumbuhkan akar tunggang, melainkan akar-akar serabut yang banyak jumlahnya.
Setelah dewasa tanaman tersebut menumbuhkan dua akar yang menyerupai akar
tunggang.
Perkembangan akar sangat dipengaruhi oleh struktur tanaman,
air tanah, dan aerasi didalam tanah. Pada tanah yang drainasenya jelek dan
permukaan air tanahnya tinggi, akar tunggang tidak dapat tumbuh lebih dari 45
cm. Hal yang sama juga akan terjadi bila air permukaan tanah terlalu dalam.
Percobaan di Malaysia memberi petunjuk bahwa air tanah yang baik untuk
pertumbuhan akar bibit cokelat adalah 25 – 64 cm. Keterbatasan akar cokelat
untuk berkembang pada tanah yang permukaan airnya ekstrem menjadi faktor
pembatas penanaman cokelat di daerah pantai. Akar kecambah yang telah berumur 1
– 2 minggu biasanya menumbuhkan akar-akar cabang (radix lateralis). Dari akar
cabang ini tumbuh akar-akar rambut (Fibrillia) yang jumlahnya sangat banyak.
Pada bagian ujung akar itu terdapat bulu akar yang dilindungi tudung akar
(calyptra). Bulu akar inilah yang berfungsi untuk menghisap larutan dan
garam-garam tanah. Diameter bulu akar hanya10 mikron dan panjangnya maksimum
hanya 1 mm.
Cokelat akan mempunyai perakaran lengkap setelah tanaman
berumur 3 tahun, tetapi hal ini masih bergantung pada faktor-faktor tanah dan
jenis tanaman serta pemupukannya. Pada akar cokelat terdapat juga jamur
mikoriza yang berperan dalam penyerapan hara tertentu, terutama fosfor.
B. Batang
Cokelat dapat tumbuh sampai ketinggian 8 – 10 meter dari
pangkal batangnya pada permukaan tanah. Tanaman cokelat punya kecenderungan
tumbuh lebih pendek bila ditanam tanpa pohon pelindung. Diawal pertumbuhannya
tanaman cokelat yang diperbanyak melalui biji akan menumbuhkan cabang-cabang
primer. Letak cabang-cabang primer itu tumbuh disebut jorquette, yang tingginya
dari permukaan tanah 1 – 2 meter. Ketinggian jorquette yang ideal adalah 1,2 –
1,5 meter agar tanaman dapat menghasilkan tajuk yang baik dan seimbang.
Pada tanaman cokelat yang diperbanyak secara vegetatif tidak
didapati jorquette. Cabang-cabang primer tumbuh dari pangkal batang dekat
permukaan tanah sehingga ketinggian tanaman relatif lebih rendah dari tanaman
cokelat asal biji. Untuk mebentuk habitat yang baik, dibutuhkan seleksi cabang
dan pemangkasan yang teratur.
Dari batang maupun cabang acapkali tumbuh tunas-tunas air
(chupon). Bila tunas air ini dibiarkan tumbuh akan membentuk jorket kembali.
Tunasa air tersebut juga menyerap banyak energi sehingga bila dibiarkan tumbuh
akan mengurangi pembungaan dan pembuahan. Karena itu, tunas air harus ditunas
secara berkala.
Ditinjau dari tipe pertumbuhannya, cabang-cabang pada tanaman
cokelat tumbuh kearah atas maupun samping. Cabang-cabang yang tumbuh kearah
samping disebut cabang-cabang plagiotrop dan cabang-cabang yang tumbuh kearah
atas disebut cabang-cabang orthotrop.
C. Daun
Daun cokelat terdiri atas tangkai daun dan helai daun. Panjang
daun berkisar 25-34 cm dan lebarnya 9-12 cm. Daun yang tumbuh pada ujung-ujung
tunas biasanya berwarna merah dan disebut daun flush, permukaannya seperti
sutera. Setelah dewasa, warna daun akan berubah menjadi hijau dan permukaannya
kasar. Pada umumnya daun-daun yang terlindung lebih tua warnanya bila
dibandingkan dengan daun yang langsung terkena sinar matahari.
Mulut daun (stomata) terletak pada bagian bawah permukaan
daun. Jumlah mulut daun sangat bergantung pada intensitas sinar matahari.
Karena cokelat termasuk tanaman lindung, aka pengaturan pertumbuhan tanaman
cara penguranagan daun untuk menyerap sinar matahari akan sangat menentukan
pembungaan dan pembuahan. Dari hasil penelitian Djati Roenggo diperoleh hasil
rata-rata bahwa permukaan bawah daun cokelat mempunyai 70 stomata per mm2.
Kedudukan daun cokelat pada cabang primer maupun sekunder
terdiri atas dua tipe, masing-masing 3/8 dan 1/2. Kedudukan daun 3/8 didapati
pada cabang ortotrop dan kedudukan daun ½ didapati pada cabang plagiotrop.
D. Bunga
Jumlah bunga cokelat mencapai 5.000-12.000 bunga per pohon per
tahun, tetapi jumlah buah matang yang dihasilkannya hanya berkisar satu persen
saja.
Bunga cokelat tergolong bunga sempurna, terdiri atas daun
kelopak (calyx) sebanyak 5 helai, dan benang sari (androecium) sejumlah 10
helai. Diameter bunga 1,5 cm. Bunga disangga oleh tangkai bunga yang panjangnya
2-4 cm. Tangkai bunga tersebut tumbuh dari bantalan bunga pada batang atau
cabang. Bantalan bunga pada cabang akan menumbuhkan bunga ramiflora sedangkan
bantalan bunga pada batang akan menumbuhkan bunga cauliflora, yang diameter
serbuk sarinya hanya 2-3 mikron.
Daun kelopak bunga (calyx) berbentuk lanset, panjangnya 6-8 m.
Warna daun kelopak putih dan kadang-kadang makin keujung warnanya ungu
kemerahan. Daun mahkota (corolla) berbentuk cawan, panjang 8-9 mm. Warna daun
mahkota putih kekuningan atau putih kemerahan. Benang sari (androecium) tersusun
dalam dua lingkaran. Satu lingkaran terletak dilekungan mahkota. Ukurannya
pendek dan tidak keluar dari bunga, berbentuk pita dan berwarna kuning.
Lingkaran kedua terdiri atas 5 helaian yang tidak mengandung tepung sari,
terletak disebelah dalam. Ukurannya panjang dan tumbuh keluar dari bunga. Daun
buah (gynoecium) terdiri atas 5 helai dengan tepi saling berlekatan untuk
membentuk bakal buah (ovarium) beruang satu.
Penyerbukan bunga cokelat dibantu oleh serangga. Sebanyak 75%
dari bunga yang menyerbuk diketahui dibantu oleh serangga Forcipomya spp
sedangkan 25% lagi oleh serangga lain yang didapati pada bunga. Ada 3 ordo
serangga penyerbuk pada tanaman cokelat, yaitu Homoptera, Hymenoptera, dan
Diptera. Forxipomya spp sendiri diketahui terdiri atas 16 subgen. Umumnya
serangga Toxopera aurintii box, Tyora tessmani, Crematogester
dpressa,Crematogester clariventis, dan Cecidomyiid, serta Drosophila terdapat
pada bunga yang siap diserbuki.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa serangga Forcipomya spp
atau serangga lainnya hinggap pada bunga cokelat dan kemudian tanpa sengaja
menyerbukannya karena tertarik pada garis merah yang terdapat pada staminodia
dan pada kerudung penampung bunga. Penyerbukan biasanya berlangsung pada pagi
hari, yaitu pada pukul 7.30-10.30. Lingkungan yang lembab, dingin dan gelap
karena tajuk sudah tumbuh rapat merupakan kondisi yang disenangi serangga
tersebut. Lingkungan hidup serangga penyerbuk, terutama Forcipomya spp, adalah
bahan – bahan organik yang lembab dan gelap seperti daun –daun busuk, sisa-sisa
kulit buah, atau batang pisang yang dibiarkan busuk dilapangan. Forcipomya spp
betina lebih sering mengunjungi bunga daripada yang jantan, karena yang betina
membutuhkan protein untuk pematangan telur
E. Buah
Buah cokelat berupa buah buni yang daging bijinya sangat
lunak. Kulit buah mempunyai 10 alur dan tebalnya 1-2 cm. Pada waktu muda, biji
menempel pada bagian dalam kulit buah, tetapi bila buah telah matang maka biji
akan terlepas dari kulit buah. Buah yang demikian akan berbunyi jika digoncang.
Jumlah bunga yang menjadi buah sampai matang dan jumlah biji
didalam buah serta berat biji merupakan faktor-faktor yang menentukan produksi.
Buah muda yang ukurannya kurang dari 10 cm disebut cherelle (buah pentil). Buah
muda ini acapkali mengalami pengeringan (cherelle wilt) sebagai gejala yang
spesifik dari cokelat. Gejala demikian disebut physiological effect thinning,
yakni adanya proses fisiologis yang menyebabkan terhambatnya penyaluran hara
untuk menunjang pertumbuhan buah muda. Gejala tersebut bisa juga dikarenakan
adanya kompetisi energi antara vegetatif dan generatif atau karena adanya
pengurangan hormon yang dibutuhkan untuk pertumbuhan buah muda.
Didalam setiap buah terdapat 30-50 biji, bergantung pada jenis
tanaman. Sedangkan berat kering atau satu biji cokelat yang ideal adalah 1 +
0,1 gram. Beberapa jenis tanaman cokelat yang menghasilkan buah yang banyak
tetapi bijinya kecil, dan sebaliknya.
Perubahan warna kulit tongkok dapat dijadikan tanda kematangan
buah. Terdapat buah yang berwarna hijau tua, hiaju muda, atau merah pada waktu
muda, tetapi akan berwarna kuning bila telah matang.
2.2.Syarat Tumbuh
Sejumlah faktor iklim dan tanah menjadi kendala bagi
pertumbuhan dan produksi tanaman cokelat. Lingkungan alami tanaman cokelat
adalah hutan tropis. Dengan demikian curah hujan, temperatur, dan sinar
matahari menjadi bagian dari faktor iklim yang menentukan. Demikian juga faktor
fisik dan kimia tanah yang erat kaitannya dengan daya tembus (penetrasi) dan
kemampuan akar menyerap hara.
Ditinjau dari wilayah penanamannya, kakao ditanam di daerah‐daerah yang berada pada 100 LU
sampai dengan 100 LS. Walaupun demikian penyebaran pertanaman kakao secara umum
berada pada daerah‐daerah
antara 70 LU sampai dengan 180 LS. Hal ini tampaknya erat kaitannya
dengandistribusi curah hujan dan jumlah penyinaran matahari sepanjang tahun.
2.2.1. Curah Hujan
Hal terpenting dari curah hujan yang berhubungan dengan
pertanaman kakao adalah distribusinya sepanjang tahun. Hal tersebut berkaitan
dengan masa pembentukan tunas muda (flushing) dan produksi. Areal penanaman
kakao yang ideal adalah daerah‐daerah
bercurah hujan 1.100 ‐ 3.000 mm
per tahun.
Disamping kondisi fisik dan kimia tanah, curah hujan yang
melebihi 4.500 mm per tahun tampaknya berkaitan dengan serangan penyakit busuk
buah (black pods).
Didaerah yang curah hujannya lebih rendah dari 1.200 mm per
masih dapat ditanami kakao, tetapi dibutuhkan air irigasi. Hal ini disebabkan
air yang hilang karena transpirasi akan lebih besar daripada air yang diterima
tanaman dari curah hujan, sehingga tanaman perlu dipasok dengan air irigasi.
2.2.2. Temperatur
Pengaruh temperatur pada kakao erat kaitannya dengan
ketersediaan air, sinar matahari, dan kelembaban. Faktor‐faktor tersebut dapat dikelola
melalui pemangkasan, penanaman tanaman pelindung, dan irigasi. Temperatur
sangat berpengaruh pada pembentukan flush, pembungaan, serta kerusakan daun.
Menurut hasil penelitian, temperatur ideal bagi pertumbuhan
kakao adalah 30o‐32oC
(maksimum) dan 18o‐21o
(minimum). Cokelat juga dapat tumbuh
dengan baik pada temperatur minimum 15oC per bulan dengan temperatur minimum
absolut 10oC per bulan.
Temperatur yang lebih rendah dari 10o akan mengakibatkan gugur
daun dan mengeringnya bunga, sehingga laju pertumbuhannya berkurang. Temperatur
yang tinggi akan memacu pembungaan, tetapi kemudian akan segera gugur.
Pembuangan akan lebih baik jika berlangsung pada temperatur 26o – 30o C pada
siang hari dibandingkan bila terjadi pada temperatur 23oC. Demikian juga
temperatur 26oC pada malam hari masih lebih baik pengaruhnya terhadap
pembungaan daripada temperatur 23o – 30o C. Jumlah flush maupun luas daun lebih
besar pada suhu rendah, demikian juga waktu hidupnya.
2.2.3. Sinar Matahari
Lingkungan hidup alami tanaman kakao adalah hutan tropis yang di
dalam pertumbuhannya mebutuhkan naungan untuk mengurangi pencahayaan penuh.
Cahaya matahari yang terlalu banyak menyoroti tanaman kakao akan mengakibatkan
lilit batang kecil, daun sempit, dan tanaman relatif pendek.
Trinidad dan Ghana merupakan daerah pertama yang mula-mula
dicoba untuk penanaman cokelat tanpa naungan. Dari percobaan tersebut diperoleh
hasil bahwa cokelat yang ditanam dibawah sinar matahari langsung ternyata lebih
tinggi produksinya. Walaupun demikian pembibitan masih memerlukan naungan,
karena benih cokelat akan lebih lambat pertumbuhannya pada pencahayaan sinar
matahari penuh.
Pemanfaatan cahaya matahari semaksimal mungkin dimaksudkan
untuk mendapatkan intersepsi cahaya dan pencapaian indeks luas daun (ILD)
optimum. Hal itu dapat diperoleh dengan penataan naungan atau pohon pelindung
serta penataan tajuk melalui pemangkasan.
Cokelat tergolong sebagai tanaman C3 yang mampu
berfotosintesis pada suhu daun rendah. Fotosintesis maksimum diperoleh pada
saat penerimaan cahaya pada tajuk sebesar 20% dari pencahayaan penuh. Kejenuhan
cahaya di dalam fotosintesis setiap daun kakao yang telah membuka sempurna
berada pada kisaran 3‐30 persen
cahaya matahari penuh atau pada 15 persen cahaya matahari penuh. Hal ini
berkaitan pula dengan pembukaan stomata yang menjadi lebih besar bila cahaya
yang diterima lebih banyak.
2.2.4. Tanah
Tanaman kakao dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, asal
persyaratan fisik dan kimia tanah yang berperan terhadap pertumbuhan dan
produksi kakao terpenuhi. Kemasaman tanah (pH), kadar zat organik, unsur hara,
kapasitas adsorbsi, dan kejenuhan basa merupakan sifat kimia yang perlu
diperhatikan, sedangkan faktor fisiknya adalah kedalaman efektif, tinggi
permukaan air tanah, drainase, struktur, dan konsistensi tanah. Selain itu kemiringan
lahan juga merupakan sifat fisik yang mempengaruhi pertumbuhan dan pertumbuhan
kakao.
A. Sifat Kimia
Tanaman kakao dapat tumbuh dengan baik pada tanaman yang
memiliki pH 6 ‐ 7,5;
tidak lebih tinggi dari 8 serta tidak lebih rendah dari 4; paling tidak pada
kedalaman 1 meter. Hal ini disebabkan terbatasnya ketersediaan hara pada pH
tinggi dan efek racun dari Al, Mn, dan Fe pada pH rendah.
Disamping faktor keasaman, sifat kimia tanah yang juga turut
berperan adalah kadar zat organik. Kadar zat organik yang tinggi akan
meningkatkan laju pertumbuhan pada masa sebelum panen. Untuk itu zat organik
pada lapisan tanah setebal 0 ‐
15 cm sebaiknya lebih dari 3 persen. Kadar tersebut setara dengan 1,75 persen
unsur karbon yang dapat menyediakan hara dan air serta struktur tanah yang
gembur.
Usaha meningkatkan kadar organik dapat dilakukan dengan
memanfaatkan serasah sisa pemangkasan maupun pembenaman kulit buah kakao.
Sebanyak 1.990 kg per ha per tahun daun gliricida yang jatuh memberikan hara
nitrogen sebesar 40,8 kg per ha, fosfor 1,6 kg per ha, kalium 25 kg per ha, dan
magnesium 9,1 kg per ha. Kulit buah kakao sebagai zat organik sebanyak 900 kg
per ha memberikan hara yang setara dengan 29 kg urea, 9 kg RP, 56,6 kg MoP, dan
8 kg kieserit. Sebaiknya tanah‐tanah
yang hendak ditanami kakao paling tidak juga mengandung kalsium lebih besar
dari 8 Me per 100 gram contoh tanah dan kalium sebesar 0,24 Me per 100 gram,
pada kedalaman 0 ‐ 15 cm.
B. Sifat Fisik
Tekstur tanah yang baik untuk tanaman kakao adalah lempung
liat berpasir dengan komposisi 30 ‐ 40 % fraksi liat, 50% pasir, dan 10 ‐ 20 persen debu. Susunan demikian
akan mempengaruhi ketersediaan air dan hara serta aerasi tanah. Struktur tanah
yang remah dengan agregat yang mantap menciptakan gerakan air dan udara di
dalam tanah sehingga menguntungkan bagi akar. Tanah tipe latosol dengan fraksi
liat yang tinggi ternyata sangat kurang menguntungkan tanaman kakao, sedangkan
tanah regosol dengan tekstur lempung berliat walaupun mengandung kerikil masih
baik bagi tanaman kakao.
Tanaman kakao menginginkan solum tanah menimal 90 cm. Walaupun
ketebalan solum tidak selalu mendukung pertumbuhan, tetapi solum tanah setebal
itu dapat dijadikan pedoman umum untuk mendukung pertumbuhan kakao.
Kedalaman efektif terutama ditentukan oleh sifat tanah, apakah
mampu menciptakan kondisi yang menjadikan akar bebas untuk berkembang. Karena
itu, kedalaman efektif berkaitan dengan air tanah yang mempengaruhi aerasi
dalam rangka pertumbuhan dan serapan hara. Untuk itu kedalaman air tanah
disyaratkan minimal 3 meter.
C. Kriteria Tanah
Goenadi dan Hardjono (1985) menetapkan kriteria tanah
berdasarkan sifat fisik dan kimianya sehingga dikenal tanah-tanah yang sesuai,
cukup sesuai, agak sesuai, kurang sesuai, dan tidak sesuai bagi cokelat. Dengan
menetapkan sebaran tingkat pembatas sifat fisik dan kimia tanah, penetapan
kriteria tanah tersebut dapat dijadikan pedoman umum bagi rencana penanaman
suatu areal apakah sesuai atau tidak bagi pertanaman cokelat.
Di Ghana areal penanaman tanaman kakao yang baik tanahnya
mengandung fosfor antara 257 ‐
550 ppm berbagai kedalaman (0 ‐
127,5 cm), dengan persentase liat dari 10,8 ‐ 43,3 persen; kedalaman efektif 150 cm; tekstur
(rata‐rata 0‐50 cm di atas) SC, CL, SiCL;
kedalaman Gley dari permukaan tanah 150 cm; pH‐H2O (1:2,5) = 6 s/d 7; zat organik 4 persen;
K.T.K rata‐rata 0‐50 cm di atas 24 Me/100 gram;
kejenuhan basa rata‐rata 0 ‐ 50 cm di atas 50%.
2.3.Perkembangan Tanaman Kakao
Sejarah Cokelat masuk ke Indonesia ternyata cukup panjang.
Secara garis besar bisa terbagi menjadi dua periode yaitu periode sebelum
kemerdekaan dan periode setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Walaupun
bubuk cokelat telah dikenal sebagai pencampur minuman oleh bangsa indian suku
Maya di Amerika tengah sejak abad sebelum masehi, namun baru abad ke-15 biji
cokelat mulai di perkenalkan di belahan dunia lain. Dengan kegunaannya sebagai
upeti atau alat barter bernilai tinggi, biji cokelat sebagai pencampur minuman
diperkenalkan kepada bangsa Spanyol.
Usaha pengembangan pertanaman cokelat dirintis oleh bangsa
Spanyol ke benua Afrika dan Asia. Di Afrika, cokelat diperkenalkan pada abad ke-15
dengan daerah penanaman terutama di Nigeria, Pantai Gading, dan Kongo. Pada
waktu yang bersamaan cokelat juga di perkenalkan di Asia, terutama
daerah-daerah yang berdekatan dengan kawasan pasifik.
2.3.1. Periode Sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia
A. Tahun 1560
Tanaman Kakao pertama kali masuk ke Indonesia. Masuk melalui
jalur Philipine dan tiba di Sulawesi Utara. Asal dari biji Kakao ini dari
Venezuela yang dibawa oleh pelaut-pelaut Spanyol yang sedang berlayar mencari
rempah-rempah di Nusantara. Tanaman Kakao yang ditanam di Sulawesi Utara ini
berjenis Criollo. Produksi cokelat ini relatif rendah dan peka terhadap
serangan hama dan penyakit, tetapi rasanya enak. Jenis ini masih banyak
terdapat di Sulawesi sampai sekarang.
B. Tahun 1806
Agak lama berselang, tanaman Kakao baru diperkenalkan ke Jawa.
Terutama di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Seiring dengan perkembangan tanaman
kopi di Jawa, tanaman Kakao ditanam dengan naungan pohon kopi. Jenis yang
ditanam di Jawa ini juga merupakan jenis Criollo.
C. Tahun 1880
Tanaman Kakao jenis Forastero mulai diperkenalkan di
Indonesia. Jenis ini berasal dari Venezuela juga. Berbentuk lebih bundar dan
gemuk dibandingkan jenis Criollo. Jenis Forestero mempunyai ketahanan terhadap
hama yang lebih baik dibandingkan jenis Criollo. Kekurangan jenis ini adalah
rasa dan aromanya kalah jika dibandingkan dengan jenis Criollo.
D. Tahun 1888
Tanaman Kakao jenis Criollo Java mulai dikembangkan di
Sulawesi dan kemudian diperkenalkan di Jawa. Jenis ini merupakan mengembangan
dari Criollo biasa yang berasal dari Venezuela. Tahun 1888 tercatat sebagai
tahun ke-77 masuknya cokelat ke Indonesia. Adalah Dr. C.J.J. Van Hall orang
yang pertama kali mengadakan seleksi terhadap pohon induk di Djati Renggo dan
Getas. Kedua nama kebun tersebut digunakan untuk menamakan beberapa klon coklat
jenis Criollo yang sampai saat ini masih digunakan, dengan kode DR dan G
berbagai nomor. Dari hasil penelitian
saat itu, direkomendasikan bahan tanam klon-klon DR, KWC dan G dengan berbagai
nomor.
E. Tahun 1914
Buku yang menceritakan tentang Kakao Indonesia pertama kali
muncul. Ditulis oleh Dr. J.C.C. Hall berkebangsaan Inggris. Buku ini
menceritakan tentang tanaman yang ada di Nusantara dan salah satunya adalah
Kakao. Dr. C.J.J. Van Hall. MacGillvray, Van Der Knaap adalah peneliti-peneliti
yang giat melakukan seleksi guna mendapatkan bahan tanam unggul maupun klon
induk pada awal pertanaman cokelat di Indonesia. Baru pada tahun 1914,
MacGillvray telah menulis buku mengenai cokelat, kemudian dituliskannya lagi
pada tahun 1932 sebagai edisi ke-dua.
F. Tahun 1938
Budidaya Kakao mulai mengalami peningkatan yang pesat. Pada
periode ini ada 29 perkebunan Kakao Indonesia yang tercatat. Perkebunan kakao
ini terdistribusi : 13 perkebunan di Jawa Barat, 7 perkebunan di Jawa tengah,
dan 9 perkebunan di Jawa Timur. Perkembangannya juga di dorong oleh meluasnya
penyakit karat daun kopi oleh Hemeleia vastatrix, sehingga menyebabkan
musnahnya areal pertanaman kopi di Jawa. Disamping itu oleh perusahaan perkebunan,
pengembangan usaha cokelat juga dilakukan oleh petani pekebun, terutama di Jawa
Barat.
2.3.2. Periode Setelah Kemerdekaan Republik Indonesia
A. Tahun 1973
Mulai diperkenalkan cokelat jenis Bulk melalui seleksi yang
dilakukan oleh PT Perkebunan VI dan Balai Penelitian Perkebunan (BPP) Medan.
Cokelat jenis Bulk pada tahun berikutnya memperkecil kemungkinan untuk
memperluas penanaman cokelat jenis Criollo. Seperti diketahui, cokelat jenis
Bulk dikenal sebagai jenis cokelat yang relatif tahan akan hama dan penyakit,
produksinya tinggi walaupun rasanya sedang-sedang saja.
Program pemuliaan PT Perkebunan VI dan BPP Medan itu, yang
tetuanya terdiri dari biji-biji campuran Na, Pa, Sca, ICS, GG, DR, Poerboyo dan
Getas, menghasilkan biji yang dikenal dengan nama varietas sintetik 1, 2, dan
3. Tetua tersebut berupa biji illegitim hibrida F1 dari Malaysia, yang ditanam
sebanyak 150.000 pohon.
B. Tahun 1976
BPP Jember juga melakukan program pemuliaannya dalam rangka
untuk mendapatkan bahan tanam hibrida. Pemuliaan ini bertujuan untuk
menghasilkan bahan tanam biji hibrida dengan efek heterosis. Sejumlah
persilangan dari klon-klon ICS, Sca, dan DR telah diuji untuk maksud itu.
Secara bersamaan usaha untuk mendapatkan bahan tanam klon yang dapat di jadikan
sebagai induk maupun bahan tanam praktek juga dilaksanakan di kebun Kaliwining
Jember, dan Malangsari.
Di Sumatra Utara, penelitian yang sama terus dilaksanakan
dalam rangka pengembangan pertanaman cokelat. Beberapa PT Perkebunan mulai
melakukan penanaman cokelat Bulk, seperti PT Perkebunan IV dan II. PT
Perkebunan II bahkan melakukan perluasan penanaman cokelat di Irian Jaya dan
Riau serta membangun kebun benih cokelat di Maryke, Medan. Pembangunan kebun
benih cokelat tersebut dilaksanakan bersama P4TM (Pusat Penelitian Dan
Pengembangan Perkebunan Tanjung Morawa) Medan yang saat ini telah menghasilkan
bahan tanam biji hibrida, dengan tetua klon-klon Sca, ICS, Pa, TSH, dan IMS.
Biji-biji hibrida yang dihasilkan kebun benih cokelat masih dalam tahap
pengujian.
C. Tahun 1980
Bila pada tahun 1970-1977 produksi biji kakao indonesia hanya
2.000-3.000 ton, maka pada tahun 1980 angka itu melonjak menjadi 7.000 ton.
Dengan produksi coklat dunia saat ini 1.600.000 ton, maka potensi Indonesia
sebagai penghasil cokelat masih baik prospeknya. Bahkan pada periode tersebut,
Indonesia sudah mulai menjadi negara penghasil Kakao nomer 3 terbesar di dunia.
D. Tahun 2011
Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Pemerintah mulai
mengurangi ekspor bahan mentah berupa biji Kakao kering. Pemerintah
berkeinginan agak biji kakao yang dihasilkan di Indonesia bisa mulai diproduksi
di Indonesia dan menjadi produk jadi sebelum akhirnya di ekspor.
2.4.Pemeliharaan
2.4.1. Penyiraman
Pemberian
air pada tanaman kakao perlu dilakukan kalau tanaman memang membutuhkan.
Penyiraman tanaman kakao yang tumbuh dengan kondisi tanah yang baik dan
berpohon pelindung, tidak perlu banyak memerlukan air. Air yang berlebihan
menyebabkan kondisi tanah menjadi sangat lembab. Penyiraman pohon kakao
dilakukan pada tanaman muda terutama tanaman yang tak diberi pohon
pelindung.Penyiraman juga dapat dilakukan 2 kali sehari (pagi dan sore)
sebanyak 2-5 liter/pohon.
2.4.2. Pemupukan
Cokelat dipupuk setelah berumur dua bulan dilapangan. Pada
TBM, pemupukan diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan vegetatif dan
diharapkan mempertahankan daya tahan tanaman terhadap hama dan penyakit.
Sisa pemangkasan dan kulit buah cokelat yang dibenamkan
kedalam tanah juga merupakan sumber hara bagi tanaman cokelat. Kulit buah
cokelat pada tanaman TM mengandung Nitrogen, Fosfor, Kalium, Magnesium, dan
Kalsium setara dengan urea, RP, MoP, dan kieserit yang dibutuhkan tanaman
cokelat.
Pemupukan pada TBM dilakukan dengan cara menaburkan pupuk
secara merata dengan jarak 15 – 50 cm (untuk umur 2 – 10 bulan) dan 50 – 75 cm (untuk umur 14 –
20 bulan) dari batang semua. Untuk TM penaburan pupuk dilakukan pada jarak 50 –
75 cm dari batang utama.
2.4.3. Pengendalian Hama Penyakit
Produksi kakao di Indonesia dihasilkan dari perkebunan besar
negara, swasta (di Sumatera dan Jawa) dan perkebunan rakyat. Berdasarkan data
Direktorat Jenderal Perkebunan, lebih dari 80 % produksi kakao kita berasal
dari perkebunan rakyat, yang umumnya baik jumlah maupun kualitasnya masih belum
optimal, karena masih menggunakan cara-cara yang tradisional. Maka untuk
meningkatkan produksi dan kualitas kakao Indonesia, diperlukan pembinaan secara
terus menerus khususnya pada para petani, terutama dalam teknologi budidaya
kakao yang baik antara lain melalui pengendalian hama dan penyakit tanaman
kakao itu sendiri. Agar tanaman kakao dapat berproduksi secara optimal,
sebaiknya harus dilakukan pengendalian terhadap berbagai gangguan hama
danpeyakit yang menyerang tanaman.
A. Hama
Tercatat ada 15 hama penggerek batang dan cabang, 11 hama
penggerek daun, 8 hama penghisap daun, dan 1 hama pada buah sebagai hama
penting pada tanaman cokelat di Indonesia.
1. Helopeltis sp. (
Hemiptera, Miridae )
Pengendalian secara kimiawi terutama ditujukan kepada sistem
pengamatan serangan sehingga penggunaan insektisida akan efektif dan efisien.
Early warning system (EWS) merupakan suatu sistem yang dinilai baik. Didalam
sistem ini areal cokelat dibagi menjadi subplot, masing-masing subplot seluas 5
ha. Didalam tiap subplot terdapat 4 kelompok pertanaman cokelat yang berjarak
sama (42,42 m x 42,42 m). Kelompok cokelat inilah yang ditetapkan sebagai pohon
pengamatan. Pengamatan ditujukan kepada ada tidaknya Helopeltis sp. pada buah
atau pucuk. Nilai 1 diberikan kepada kelompok pohon pengamatan yang didapati 1
serangga, nilai 2 untuk 2 serangga, dan seterusnya. Namun nilai 5 diberikan
kepada kelompok pohon pengamatan yang dihuni oleh serangga hama lebih dari 5
ekor. Penyemprotan insektisida dilakukan pada kelompok pohon pengamatan dan
pohon disekitarnya.
Disamping itu, pengendalian secara biologis juga memberi
harapan untuk dikembangkan. Semit hitam (Dolichoderus thoracicus) bisa
dimanfaatkan sebagai pengendali perkembangbiakan Helopeltis sp. Adanya kutu
putih (Pseudoccus sp). pada buah maupun pucuk cokelat mengundang kerumunannya
semut hitam pada tanaman cokelat karena kandungan gula sekresi kutu putih.
Penanaman kelapa sebagai pelindung tetap yang diharapkan bisa menjadi sarang
tetap semut hitam juga sangat baik untuk dikembangkan guna mengendalikan
serangan Helopeltis sp. Sisa kulit buah yang mengandung kutu putih yang
disangkutkan pada pangkal buah cokelat akan mengundang kehadiran semut hitam. Teknik
ini sudah diketahui sejak tahun 40-an, dan bila dilakukan secara berkala akan
dapat mengendalikan perkembangbiakan serangga hama, terutama Helopeltis sp.
2. Conopomorpha
cramella (Lepidoptera, Gracillariidae)
Hama ini dikenal juga dengan nama Penggerek Buah Cokelat
(PBC), cacao mot, atau pod borer. PBC yang menyerang pada areal pertanaman
cokelat dapat dikendalikan dengan cara merumpis. Caranya, seluruh buah dipetik,
kemudian dibenamkan ke dalam tanah.
Didalam teknik bercocok tanam usaha menanam tanaman tahan hama
dan penyakit, terutama jenis Upper American Hybrids, Forastero, atau cokelat
jenis Bulk, dapat dilakukan sejak awal. Cokelat jenis Criollo lebih peka
terhadap serangan PBC karena kulitnya lunak dan adanya lekukan-lekukan yang
lebih banyak dibandingkan dengan jenis cokelat lainnya.
Usaha lain yang dilakukan adalah dengan membungkus buah.
Kantong plastik berukuran panjang 34 cm dan lebar 17 cm serta tebal 0,03 mm
disarungkan menutupi buah dengan kedua ujungnya terbuka. Pembungkusan hanya
dilakukan terhadap buah yang panjangnya sudah lebih dari 12 cm. Penanaman areal
penyangga dengan kopi atau karet, pembenaman kulit buah kedalam tanah setiap
selesai pemecahan dilapangan, panen yang berfrekuensi , dan mencegah pemindahan
buah dari satu tempat ketempat lain juga merupakan tindak pencegahan penyebaran
PBC.
Pengendalian PBC secara kimiawi juga dapat dilakukan dengan
penyemprotan insektisida organochlorine atau pyrethroid sintetik, misalnya
menggunakan Cyfluthrin 10 – 15 cc per 10
liter ai denganelang waktu penyemprotan 10 – 14 hari. Alat yang digunakan
adalah mist blower.
3. Zeuzera sp.
(Lepidoptera, Cossidae)
Pengendalian serangan hama penggerek jenis ini dapat dilakukan
dengan memotong cabang terserang sepanjang 30 cm dari lubang tempat masuknya.
Cabang dikumpulkan kemudian dibakar, penggunaan insektisida organoklorin atau
organofosfat sistemik pada lubang yang digerak dapat membunuh ulat.
4. Darna trima
(Lepidoptera, Limacodidae)
Hama ini juga dikenal dengan nama ulat api. Serangannya mampu
mengakibatkan rontoknya daun cokelat. Pada awal serangan, daging daun dimakan
sehingga warna daun menjadi kuning. Sambil makan daun, Darna trima mengeluarkan
cairan. Serangannya bukan saja terhadap beberapa helai daun, tetapi meliputi
seluruh daun cokelat.
Disamping menggunakan insektisida, pengendaliannya dapat
dilakukan dengan meningkatkan sanitasi dibawah pohon cokelat.
5. Hyposidra talaca
(Lepidoptera, Geomitridae)
Atau lebih dikenal dengan nama ulat jengkal. Pengendaliannya
dengan menyemprotkan insektisida berbahan aktif Dekametrin (misalnya Decis 2,5
EC), sihalotrn (Matador 25 EV), sipermetrin (Cymbush 5 EC), metomil Nudrin 24
WSC/Lannate 20 L), dan fenitron (Karbation 50 EC). Pengendalian khususnya
dilakukan pada saat ulat baru menetas didaun lamtoro. Oleh karena itu,
pengaturan tinggi lamtoro perlu diperhatian untuk mengendalikan serangan hama
ini. Penyemprotan insektisida dianjurkan 2 – 3 kali mengingat adanya berbagai
stadia pada waktu yang sama. Perbaikan sanitasi areal pertanaman cokelat,
khususnya serasah, juga merupakan tindak pengendalian Hyposidra talaca. Dengan
menyapu sersah maka perkembangan pupa dapat dikendalikan.
6. Apogonia sp.
(Scarabaeidae, Melolonthinae)
Pengendalian dapat dilakukan dengan menyemprotkan insektisida
sistemik jenis monocrotophos, dicrotophos, dimethoate, dan acephate.
Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada malam hari, saat Apogonia sp. aktif.
Perlindungan dengan pelepah kelapa sawit yang ditancapkan disekeliling cokelat
muda juga terbukti dapat menurunkan
tingkat serangan Apogonia sp. Di samping itu, pengecatan batang cokelat
muda setinggi 15 cm dari permukaan tanah dengan acephate atau monocrotophos
juga telah terbukti dapat mengendalikan serangan hama ini. Parasit seperti Tiphia (Hymenoptera, Tiphiidae) yang biaa
dimanfaatkan di Malaysia, prosenasiberita F., dan Masicerna sp. dijawa memberi
petunjuk bahwa Apogonia sp. dapat dikendalikan secara hayati.
B. Peyakit
Agar tanaman kakao dapat berproduksi secara optimal, sebaiknya
harus dilakukan pengendalian terhadap berbagai gangguan peyakit yang menyerang
tanaman, seperti : 1) penyakit busuk buah dan kanker batang (Phytopthora
palmivora); 2) penyakit antraknose (Colletotrichum gloeosporiodes); 3) penyakit
Vascular Streak Dieback (VSD); 4); penyakit Cocoa Swolen Shoot Virus (CSSV);
dan 5) penyakit Monila Pod Rod.
1. Penyakit busuk
buah dan kanker batang (Phytopthora palmivora)
Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan cara mengurangi
kelembaban kebun dengan cara memperbaiki drainase, mengurangi naungan,
membrantas gulma dan melakukan pemangkasan; Buah-buah yang busuk diambil secara
teratur misalnya empat hari sekali dan buah tersebut harus dikubur sedalam 30
cm; kanker batang dapat dikendalikan dengan mengupas kulit yang sakit sampai
pada batasan yang sehat, kemudian bagian tersebut diolesi dengan fungsida
Cupravit (tembaga oksida), Copper Sandos (tembaga oksiklorida) dengan
konsentrasi 5-10% formulasi; serta penyakit buah busuk dapat dikendalikan
dengan penyemprotan fungisida Copper Sandos, Cupravit dan Rocide (tembaga
oksida, tembaga oksiklorida, tembaga hidroksida), dengan konsentrasi 0,3%
formulasi. Penyemprotan menggunakan alat semprot knapsack sprayer dengan volume
semprot 500 liter/ha dengan interval dua minggu. Pada musim hujan diperlukan
4-6 kali penyemprotan.
2. Penyakit
Antraknose (Colletotrichum gloeosporiodes)
pengendalian penyakit ini dilakukan dengan cara :
a. Pemangkasan
ranting sakit dan pemetikan buah sakit, kemudian dikubur dalam tanah.
Pelaksanaan dapat dilakukan bersamaan saat pemangkasan, pemanenan, maupun pada
saat pengambilan buah busuk karena Phytopthora palmivora;
b. Pemberian pupuk
kandang sekitar 25 kg per pohon dan pemupukan secara berimbang;
c. Pemberian penaung
yang cukup yaitu sekitar 25% untuk tanaman dewasa. Bila menggunakan pohon
lamtoro yang tahan kutu loncat, maka populasi minimum 250 pohon/ ha;
d. Melakukan
penyemprotan dengan fungisida yang dianjurkan yaitu fungisida sportak
(prokloras) dengan konsentrasi 0,3% formulasi atau dengan belerang sirus dengan
dosis 15-20 kg/ha. Penyemprotan diarahkan pada flush yang masih berukuran
sekitar 5 cm. Bila tanaman sudah tinggi, maka alat semprot perlu menggunakan
tangkai panjang. Belerang diaplikasikan pagi hari pada saat masih ada embun.
Pada setiap periode flush, dilakukan 2-3 kali penyemprotan dengan interval satu
minggu.
3. Penyakit Vascular
Streak Dieback (VSD)
Penyakit ini dikendalikan dengan cara memotong ranting dan
cabang tanaman yang terserang sampai bagian yang masih sehat (sekitar 30cm dari
batas gejala garis-garis cokelat pada jaringan yang tampak). Selanjutnya
ranting atau cabang yang telah dipotong dibakar atau dipendam dalam tanah;
serta mengurangi kelembaban kebun antara periode flush pada musim hujan dengan
cara pemangkasan tanaman kakao, tanaman penaung dan memperbaiki saluran
drainase.
4. Penyakit Cocoa
Swolen Shoot Virus (CSSV)
Untuk mencegah meluasnya penyakit CSSV ke daerah yang belum
terinfeksi maka perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
a. Dilarang
membawa buah, biji, tunas muda, dan daun kakao ke daerah/kebun yang belum
terinfeksi. Sekali tanaman kakao terinfeksi CSSV, maka butuh waktu 2 tahun
sebelum gejala awal muncul.
b. Dilarang
memindahkan bahan tanaman sakit, serangga, sampel tanah dari kebun yang
terinfeksi kecuali dibawah pengawasan pakar peneliti.
c. Gunakan selalu
sepatu bot yang mudah dibersihkan dan basuh kedua tangan dengan alkohol setelah
memegang bahan tanaman sakit.
d. Bersihkan semua
peralatan sebelum masuk ke kebun.
e. Minimalkan
jenis dan jumlah peralatan yang akan digunakan di kebun untuk menurunkan resiko
kontaminasi.
Sedangkan untuk kebun-kebun yang sudah terinfeksi CSSV maka
langkah pengendalian yang dapat dilakukan antara lain:
a. Tanaman kakao
sakit diupayakan untuk dibongkar (eradikasi) untuk menghilangkan sumber
inokulum. Dalam upaya ini perlu diingat bahwa biaya yang diperlukan tidak
sedikit dan seringkali mengakibatkan pertentangan politik dalam negeri.
b. Serangga vektor
dikendalikan dengan memanfaatkan baik agens pengendali hayati (APH)maupun
pestisida nabati. Penggunaan insektisida kimia yang bersifat sistemik
dianjurkan bila telah terjadi serangan endemik.
c. Melakukan
inokulasi silang (preimunisasi) dengan menggunakan strain virus yang avirulen
untuk melindungi tanaman kakao dari virus yang virulen.
d. Dilakukan upaya
cordon sanitaire, yaitu suatu jalur yang bebas dari CSSV untuk mengisolir
kebun-kebun yang terinfeksi.
e. Menggunakan
bibit kakao yang berasal dari Somatic Embryogenesis (SE) untuk menurunkan
tingkat infeksi CSSV.
5. Penyakit
Witchers Broom Diseases (WBD)
Penyakit ini dikendalikan dengan cara : 1) memotong cabang
sepanjang 15 cm dari bagian yang terinfeksi kemudian memusnahkannya dengan cara
dibakar; 2) membuang buah muda maupun dewasa yang berbecak/ terserang WBD dan
memusnahkannya; 3) menanam bibit yang tahan WBD seperti Sea 6 dan Sea 12 serta
hibridanya yang disilangkan dengan ICS 60.
6. Penyakit Monila Pod
Rod
Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan menyemprotkan
insektisida yang mengandung tembaga dan sulfur kearah buah yang masih mengalami
bercak kecil. Penyemprotan dilakukan satu kali setiap 10 - 14 hari. Untuk
pencegahannya dapat dilakukan dengan cara sanitasi areal pertanaman dan
perumpisan buah terinfeksi. ( Timpal H.S. Siregar, 2006)
2.4.4. Pengendalian
Gulma
Pegendallian gulma dalam areal pertanaman coklat biasanya
dilaksanakan pada masa TBM. Saat iti tajuk belum saling bertemu sehingga masih
ada jalur terbuka baik antar barisan maupun didalam barisan itu sendiri.
Paspolum sp, Axonopus compressus, eleusine indica, dan
digitaria sp. Adalah gulma golongan
rumpu-rumputan yang umum di dapati pada areal coklat. Selain itu, Ageratum
conyzorides dan mikania sp. Juga merupakan gulma berdaun lebar. Pengendalian
gulma dapat dilakukan secara manual dan kimiawi di pembibitan, pada saat
tanaman masih muda, maupun pada areal TM yang ditumbuhi gulma yang tahan
terhadap ketersediaan cahaya minimum.
Di bedeng pembibitan, pengendalian gulma secara kimiawi
umumnya dilakukan penyemprotan dengan herbisida pratumbuh. Penyemprotan
herbisida pratumbuh diareal pertanaman muda dapat menghambat pertumbuhan
Paspalum conjagatum dan Ageratum conyzoides selama 5 – 6 bulan. Bila
pengendalian gulma itu dilakukan dengan cara manual, diperlukan 10 – 15 hari
kerja per ha.
Pengendalian gulma pada areal cokelat muda terutama juga
ditujukan untuk membersihkan piringan tanaman dengan diameter 0,5 m. Disamping
itu, pendongkelan anak kayu, anakan cokelat yang tumbuh liar atau pemberantasan
ilalang juga harus dilakukan dengan selang waktu tertentu secara teratur.
2.5. Panen
Buah matang dicirikan oleh perubahan warna kulit dan biji yang
melepas dari kulit bagian dalam. Bila buah di guncang, biji biasanya berbunyi.
Buah yang tidak dipanen akan mengakibatkan biji berkecambah didalam. Teknik
memanen perlu diperhatikan karena pemotongan tangkai buah yang keliru
mengakibatkan bunga tidak tumbuh lagi pada tempat tersebut. Pemanenan dapat
berlangsung 10 – 21 hari sekali, tergantung pada kepadatan buah matang dan luas
areal pertanaman. Buah yang telah dipanen kemudian dipecah. Pengolahan biji
cokelat meliputi pembuangan pulp, pematian biji, pembentukan aroma,
pengeringan, dan kesesuian kandungan biji serta berat keringnya sehingga siap
digunakan untuk berbagai kebutuhan.
Ada 3 perubahan warna kulit buah cokelat yang telah mengalami
kematangan. Ketiga perubahan warna kulit itu juga menjadi kriteria kelas
kematangan buah dikebun-kebun yang mengusahakan cokelat.
A. Teknik Memetik Buah
Untuk memanen cokelat digunakan pisau tajam. Bila buah tinggi,
pisau disambung dengan bambu/ pisau berbentuk huruf L, dengan bagian tengah
agak melengkung. Selama memanen, buah cokelat harus diusahakan untuk tidak
melukai batang atau cabang yang akan ditumbuhi buah. Pelukaan akan
mengakibatkan bunga tidak akan tumbuh lagi pada tempat tersebut untuk periode
berikutnya.
Pemanenan buah cokelat hendaknya dilakukan hanya dengan
memotong tangkai buah tepat dibatang atau cabang yang ditumbuhi buah. Dengan
demikian, tangkai buah pun tidak tersisa dibatang atau cabang sehingga tidak
menghalangi pembungaan pada periode berikutnya.
B. Organisasi Pemanenan
Pada areal yang cukup luas biasanya disiapkan suatu organisasi
pemanenan dengan melibatkan tenaga kerja khusus. Dibawah pimpinan seorang
mandor, panen dilakukan pada areal yang kepadatan buahnya sudah ideal untuk
dipanen.
Seorang pemanen dapat memanen 1.500 buah cokelat setiap
harinya. Hal itu mengisyaratkan perlunya perhitungan tenaga kerja yang tepat,
disesuaikan dengan luas areal dan jumlah buah matang.
Buah matang yang kepadatanya cukup tinggi dapat dipanen dengan
sistem 6/7. Artinya, areal panen (kaveld), dipetik buahnya enam hari didalam
tujuh hari. Kepadatan buah matang yang rendah dapat dilaksanakan dengan sistem
7/14. Artinya, areal panen dipetik buahnya tujuh hari didalam empat belas hari
atau dua hari sekali. Penetapan premi panen biasanya didasarkan atas prestasi
pemanen, produktivitas, dan tingkat harga biji cokelat.
C. Pemecahan Buah
Buah yang telah dipanen biasanya dikumpulkan pada tempat
tertentu. Buah dikelompokan menurut kelas kematangannya sehingga akan memudahka
pengolahannya. Buah dipetik hingga pukul 12.00 untuk kemudian dipecah hingga
pukul 12.00.
Pemecahan kulit dilaksanakan dengan menggunakan kayu bulat
yang keras. Seorang pemecah terampil sudah akan dapat menggunakan parang tajam
tapa mengakibatkan pelukaan pada biji. Buah yang dipecah dipegang dengan
menggunakan tangan kiri dengan bagian pangkal menghadap kedalam. Buah kemudian
dipukul kearah punggung buah dengan arah miring.
Bila kulit telah terbagi dua, kulit bagian ujung dibuang da
tangan kanan menarik biji dari plasenta. Biji kemudian ditempatkan diatas
lembaran plastik yang telah disiapkan atau didalam keranjang bambu yang diberi
alas. Setelah pemecahan buah selesai, kulit buah sebaiknya dibenamkan pada
areal pertanaman. Penanaman kulit buah kedalam tanah dimaksudkan sebagai
penambah hara bagi tanaman dan juga untuk menghindari infestasi penggerek buah
cokelat (PBC) yang sangat merugikan.
2.6.Pasca Panen
Setelah buah kakao dipanen,hasil buah kakao akan diolah dengan
melalui tahapan-tahapan sortasi buah, pemeraman. pemecahan buah, fermentasi
biji, pencucian , pengeringan dan sortasi serta pengemasan dan penyimpanan biji
kakao.
A. Sortasi Buah
Sortasi yaitu memisahkan buah yang baik dengan dengan buah
yang rusak atau terserang hama/ penyakit. Buah yang terserang hama/ penyakit
langsung dibuang dengan cara membenamkannya ke dalam tanah. Selanjutnya buah
yang baik diolah lebih lanjut dengan pemeraman atau penyimpanan buah kemudian
dipecahkan .
B. Pemeraman atau
Penyimpanan Buah
Pemeraman bertujuan untuk memudahkan pengeluaran biji dari
buah kakao. Caranya buah dimasukkan dalam keranjang atau karung goni dan
disimpan ditempat yang bersih dengan dialasi daun-daunan ,kemudian tumpukan
buah ditutup dengan daun-daunan . Waktu pemeraman berkisar 5 - 12 hari
tergantung kondisi setempat dan tingkat kemasakan buah.
C. Pemecahan Buah Kakao
Pemecahan buah Kakao, dimaksudkan untuk mengeluarkan dan
memisahkan biji kakao dari kulit buah dan placentanya. Buah dipecah kulitnya
dengan dipukul kearah punggung buah arah miring menggunakan pemukul kayu yang
bulat atau dengan memukulkan sesama buah kakao. Dilakukan secara berhati-hati
agar tidak melukai atau merusak biji kakao. Bila kulit telah terbagi dua,
diambil bijinya dan disimpan dalam plastik atau dalam keranjang yang diberi
alas. Setelah pemecahan buah selesai, kulit buah dibenamkan pada tanah areal
pertanaman yang dapat sebagai penambah hara bagi tanaman sedalam 0,5 m.
Selanjutnya pisahkan biji yang cacat dengan biji yang baik. Fermentasikan biji
yang baik, sedangkan biji yang cacat langsung dikeringkan.
D. Fermentasi Biji
Kakao
Merupakan inti pengolahan biji kakao, karena dalam proses ini
terbentuknya cita rasa khas coklat. mutu, aroma dan warna coklat cerah dan
bersih ,pengurangan rasa pahit dan sepat serta perbaikan kenampakan fisik biji.
Proses fermentasi dapat dilakukan didalam wadah fermentasi dapat berupa
keranjang bambu atau kotak kayu/ peti yang berlubang disisinya dengan jarak
lubang 10 -15 cm dengan diameter 1 cm .Kotak fermentasi sebaiknya dibuat ukuran
40 x 40 cm, tinggi 50 cm untuk skala kecil. Sedang skala besar lebar 100 - 120
cm, panjang 150 - 165 cm, tinggi 50 cm. Cara fermentasi dengan menumpuk biji
kakao dengan daun pisang dalam keranjang bambu atau dimasukkan ke dalam kotak
kayu atau bisa juga dengan menumpuk diatas ranting-ranting kayu yang dialasi
dengan daun pisang, kemudian ditutup dengan daun pisang. Tinggi minimum
tumpukan biji dalam kotak 40 cm. Selama fermentasi, biji dihindarkan
bersinggungan dengan logam. Biji dibalikkan setelah 48 jam ( hari ke 3) proses
fermentasi. Proses fermentasi biasanya berlangsung 4 -6 hari. Setelah hari ke 6
biji-biji dikeluarkan dan siap untuk dijemur.
E. Perendaman dan
Pencucian Biji
Perendaman dan pencucian tidak mutlak dilakukan tergantung
permintaan konsumen. Biji kakao dari buah yang sudah diperam selama 5 - 12 hari
tidak perlu dicuci karena kadar kulitnya sudah rendah. Pencucian bertujuan
untuk menghentikan proses fermentasi, mengurangi lapisan lendir agar
pengeringan dapat dipercepat, kadar kulit lebih rendah dan rupa luar lebih
menarik. Biasanya biji yang mengalami pencucian menghasilkan kulit biji yang
tipis sehingga rapuh dan mudah terkelupas. Sedangkan biji yang tanpa pencucian
memiliki rendemen yang tinggi dan kulitnya tidak rapuh. Aroma biji tanpa
pencucian juga lebih baik karena tidak ada bagian yang dibilas air. Pencucian
yang terlalu bersih dapat menghilangkan selaput lendir dan kehilangan berat
serta membuat kulit biji mudah terkelupas. Oleh karena itu disarankan melakukan
pencucian setengah bersih agar kenampakan baik, pengeringan cepat dan tidak
terlalu menurunkan rendemen (berat). Sebelum dicuci, biji kakao direndam lebih
dahulu selama 2 jam untuk meningkatkan jumlah biji bulat, kenampakan menarik.
Pencucian dilakukan secara manual dengan tangan atau dengan dengan mesin cuci
selama 1 jam.
F. Pengeringan
Setelah biji dicuci, ditiriskan dan dikeringkan. Pengeringan
dapat dilaksanakan dengan penjemuran atau pengering buatan atau kombinasi
keduanya. Tujuan pengeringan untuk menurunkan kadar air dari 60 % menjadi 6 - 7
%. dan menyempurnakan pembentukan aroma dan warna. Pengeringan dapat dilakukan
dengan menjemur biji kakao dengan menggunakan balai bambu setinggi 1 m dari
tanah atau diatas terpal/ lantai jemur. Tinggi tumpukan tidak lebih dari 3
lapis biji (tebal 3- 5 cm). Lama penjemuran 6 hari sampai biji benar-benar
kering. Dibalik 1- 2 jam sekali, tergantung cuaca.Dengan pengeringan buatan pada
temperatur 55 - 60 derajat celcius selama 30 jam dengan pembalikan biji setiap
3 jam. Kriteria biji kering : rapuh atau mudah patah.
Sortasi biji kering, merupakan tahap terakhir dari pengolahan
untuk menentukan mutu biji kakao. Tujuannya untuk memisahkan biji kakao dari
kotoran yang terikut, biji yang pecah, rusak atau benda asing lainnya. Selain
itu memisahkan biji berdasar kenampakan fisik dan ukuran/ berat biji. Sortasi
dilakukan secara visual dengan membuang biji-biji yang jelek dan mutu rendah.
Penetapan kualitas biji didasarkan dari kulit ari, kadar lemak dan kadar air.
G. Pengemasan dan
Penyimpanan
Biji yang telah disortasi dikemas dalam karung goni yang
berukuran minimum 60 kg disimpan dalam gudang yang bersih dan memiliki
ventilasi udara yang baik. Sebaiknya berlantai beton dan beralaskan balok-balok
kayu sehinggga tumpukan goni tidak langsung menyentuh lantai. Penyimpanan
dianjurkan tidak melebihi 3 bulan. Penyimpanan selama 3 bulan masih dapat
mempertahankan mutu biji. Lebih dari 3 bulan telah ditumbuhi jamur dan asam
lemak bebas akan meningkat.

0 komentar:
Posting Komentar