Pages

Ads 468x60px

Senin, 27 April 2015

Yumina dan Bumina, Aquaponik Gaya Gunungkidul





Jakarta (TROBOS.COM). Salah satu konsep yang dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan pembudidaya ikan adalah dengan aplikasi integrasi usaha ikan dengan usaha budidaya tanaman sayuran dan buah yang dikenal dengan nama aquaponik.

            Dalam memoar pendampingan yang dilakukan Budi Wardono, penanggung jawab program KIMBis Balitbang KP wilayah Gunungkidul disebutkannya, konsep ini kini disempurnakan dengan berbagai tambahan ide yang lebih segar. Jadilah konsep Yumina dan Bumina branded Gunungkidul.

            Seputar Yumina dan Bumina branded Gunungkidul ini, Widodo sebagai inisiator dan konseptornua menjelaskan panjang lebar. Memaksa pendengarnya terkaget-kaget dan kagum atas inisiatif orisinalitas ide dan konsep yangdikembangkan.

            Ke depan implementasi Bumina dan Yumina branded Gunungkidul perlu dikemas dalam konsep landscape sehingga bisa menjadi lahan bisnis bagi KIMBis (Klinik Iptek Mitra Bisnis - sebuah program  transfer teknologi dan penguatan kelembagaan dari Badan Litbang KKP) yang menguntungkan dan menjadi model pengembangan konsep Bumina dan Yumina di perkotaan yang mempunyai keterbatasan lahan.

Penerapan prinsip-prinsip usaha telah diterapkan dan mempunyai prospek bisnis yang menjanjikan. Pengemasan dalam sistem usaha modern dan kekinian sangat diperlukan agar produk bisnis yang dihasilkan bisa laku dan mempunyai segmen pasar yang luas. Widodo sebagai konseptor Yumina dan Bumina telah mengimplementasikan konsep tersebut sejak tahun 2000an dengan menanam beberapa jenis tanaman seperti cabai, terong dan beberapa macam sayuran

            Konsep tersebut dikembangkan dengan sistem vertikal yang lebih efisien tempat dengan sistem irigasi dengan pompa listrik mini menggunakan air yang berasal dari kolam yang berfungsi sebagai pupuk alami. Air kolam ikan kaya senyawa nitrogen yang berasal dari sisa makanan dan kotoran ikan. Konsep ini diterapkan dengan memanfaatkan limbah botol aqua dan batang bambu sebagai tempat media untuk tanaman dan buah yang ditanam.

            Bambu diperoleh dari masyarakat sekitar sedangkan botol-botol aqua diambil dari tempat pengepul barang bekas. Dengan memanfaatkan bahan-bahan tersebut penerapan konsep Yumina dan Bumina tidak memerlukan biaya yang besar.

            Untuk lahan kolam yang luasnya sekitar 300m2 Widodo mengaku hanya mengeluarkan biaya sekitar 1 juta, di luar biaya tenaga kerja. Produk Yumina dan Bumina ini sudah mendekati produk yang organik sehingga qdiharapkan mempunyai pangsa pasar khusus dengan harga yang jauh lebih mahal dari produk buah dan sayuran biasa.

            Konsep  ini secara lebih praktis sudah diterapkan dan ditularkan kepada kelompok wanita tani (KWT) Simo II yang telah berhasil mengaplikasikan konsep tersebut mengki masih menggunakan lahan usaha tani terutama di pekarangan dan pematang-pematang lahan sawah. Bahkan Menteri Pertanian dikabarkan akan mengunjungi KWT tersebut untuk melakukan panen.

            Konsep Yumina dan Bumina Branded Gunungkidul akan dikembangkan dengan konsep landscape sehingga akan menghasilkan Bumina dan Yumina Branded yang siap diluncurkan untuk pemanfaatan diwilayah perkotaan. Istimewa/Nuruddin.



0 komentar:

Posting Komentar

 
Blogger Templates